Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2025

Sepak Bola Indonesia, Haruskah Belajar dari Kapten Tsubasa?

Beberapa waktu lalu tim sepak bola senior Indonesia gagal melaju ke Piala Dunia, setelah hanya menduduki posisi ketiga di   Kualifikasi putaran keempat Piala Dunia. Meski begitu, timnas U-17 justru berhasil lolos ke putaran final Piala Dunia di Qatar. Namun harus terhenti di fase grup, dengan hanya mengantongi 3 poin setelah mengalahkan Honduras. Harapan masyarakat Indonesia, agar timnya melaju ke piala dunia sangat besar. Sehingga ketika timnas senior gagal lolos piala dunia, kekecewaan pun dituangkan dalam berbagai cara di sosial media. Sepak bola merupakan olah raga paling populer di Indonesia. Sebuah portal data statistik ternama, Country Cassette bahkan merilis data, bahwa penggemar sepak bola di Indonesia menduduki nomor tiga terbesar di dunia, yakni 165,48 juta penggemar. Peringkat Indonesia, hanya berada di bawah Brasil dan China. Hal ini membuktikan bahwa sekitar 57 % penduduk Indonesia adalah penggemar sepak bola. Namun jumlah penggemar itu tak mampu membuat timnas mel...

The Power of Less (Leo Babatua)

Terkadang kita menganggap mengerjakan segala hal dalam satu hari adalah sesuatu yang produktif. Yang terjadi justru sebaliknya, kita hanya mengerjakan semuanya setengah jadi. Ibarat seorang penjahit baju yang menerima banyak orderan dalam waktu bersamaan. Mungkin dia bisa menyelesaikannya tapi dengan hasil yang kurang memuaskan semua pelanggan. Lain halnya jika dia hanya menerima 2 pesanan saja. Dia bisa lebih fokus dan menikmati proses pengerjaan jahitan dengan hasil yang bisa lebih baik. Buku karya Leo Babauta ini membahas bagaimana mengerjakan hal yang kecil dan terbatas   namun justru lebih produktif. Pernahkah kita merasa sibuk seharian, mengerjakan banyak hal, namun target kita justru tak terpenuhi. Multitasking yang konon membuat kerja kita efektif justru menguras dan memecah energi kita. Jebakan ilusi kesibukan ini membuat kita tak menyelesaikan apa apa. Mengerjakan sedikit hal bukan berarti malas, tapi memberikan ruang kita untuk lebih fokus. Lalu bagaimana memulai pe...

Rumah Pak Jeri

Berjalan di pagi hari adalah kebiasaan baru yang menyenangkan bagiku. Menikmati langit yang berubah warna. Mendengarkan kicauan burung yang  aku sendiri tak tahu bentuknya. Menyusuri rumah- rumah tetangga. Menghirup masakan ibu-ibu yang menyiapkan bekal untuk anaknya. Tiap rumah kurasakan berbeda aroma masakannya. Terkadang tercium nasi goreng, sesekali merebak aroma ubi rebus, dan muncul juga aroma telor ceplok yang menggugah selera. Beberapa kali memang aku sengaja tak pake alas kaki. Kubiarkan kakiku mencium tanah dan rumput. Bergesekan  dengan kerikil dan batu. Biarlah tubuh ini merasakan bumi. Toh aku memang dari bumi. Dan kelak akan kembali ke bumi. Aku sudah lama tinggal di kompleks perumahan ini. Kalau dihitung menggunakan jari tangan, rasanya tak cukup untuk menghitungi. Harus kutambah dengan jari kaki baru mencukupi. Hampir 15 tahun. Namun kebiasaan baru berjalan kaki ini memberiku kesempatan sejenak untuk berhenti. Selama itu, aku tinggal di sini, rasanya tak sempat...