Langsung ke konten utama

Rumah Pak Jeri

Berjalan di pagi hari adalah kebiasaan baru yang menyenangkan bagiku. Menikmati langit yang berubah warna. Mendengarkan kicauan burung yang  aku sendiri tak tahu bentuknya. Menyusuri rumah- rumah tetangga. Menghirup masakan ibu-ibu yang menyiapkan bekal untuk anaknya. Tiap rumah kurasakan berbeda aroma masakannya. Terkadang tercium nasi goreng, sesekali merebak aroma ubi rebus, dan muncul juga aroma telor ceplok yang menggugah selera. Beberapa kali memang aku sengaja tak pake alas kaki. Kubiarkan kakiku mencium tanah dan rumput. Bergesekan  dengan kerikil dan batu. Biarlah tubuh ini merasakan bumi. Toh aku memang dari bumi. Dan kelak akan kembali ke bumi.

Aku sudah lama tinggal di kompleks perumahan ini. Kalau dihitung menggunakan jari tangan, rasanya tak cukup untuk menghitungi. Harus kutambah dengan jari kaki baru mencukupi. Hampir 15 tahun. Namun kebiasaan baru berjalan kaki ini memberiku kesempatan sejenak untuk berhenti. Selama itu, aku tinggal di sini, rasanya tak sempat aku mengamati satu persatu. Semua sekadar selewat lalu. Sepertinya 15 tahun itu terlewat begitu saja. Aku sibuk bekerja. Sibuk dengan diriku sendiri. Tanpa sadar tetanggaku kini sudah silih berganti. Rumah-rumah pun kini berganti rupa, bertingkat tingkat berganti rupa.

Terkadang benar juga kata orang, waktu berputar begitu cepat. Bahkan yang setiap hari kulewati dan kutinggali, tak sempat kuamati. Berjalan kaki berhasil memperlambat waktu. Sehingga membuatku lebih menikmati langkah demi langkah yang melaju. Aku jadi tahu, titik jalan mana yang perlu diperbaiki. Titik jalan mana banyak kumpulan kucing bisa kutemui. Sesekali aku juga memungut sampah yang berserak di jalan. Menyingkirkan beling yang terserak. Pernah kudengar di pengajian, menyingkirkan halangan di jalan merupakan bentuk sedekahan. Rumah demi rumah tetangga kulewati. Ada yang sedang membangun, ada yang kini lebih besar, ada yang begitu-begitu saja. 

Salah satu titik, di mana aku selalu berdesir saat melewatinya adalah rumah Pak Jeri. Dulu dia adalah orang Batak yang sangat ramah. Senang bercengkrama dan menyapa. Sering menawarkan bantuan kepada tetangga. Dia sebenarnya orang kaya. Rumahnya  gabungan dari 2 rumah, jadi tak terkira luasnya. Pak Jeri sebenarnya jarang tinggal di rumah itu. Karena dia harus bekerja di Jakarta Barat. Yang menempati rumah itu adalah ibunya, yang sering kita panggil Oma. Perempuan sepuh, berusia 70 an. Meski begitu Oma masih aktif, bersih bersih sekitar rumah.  Kalau Hari Minggu Oma selalu gereja dijemput ojek langganan. Karena ada Oma itu, makanya Pak Jeri tidak meningkat rumahnya. Di depan rumah Pak Jeri ada pohon mangga dan jambu air yang selalu berbuah. Kadang aku ijin mengambilnya.

Namun beberapa tahun lalu, Oma meninggal dunia.  Setahun kemudian, Pak Jeri juga menyusulnya. Itulah yang sebenarnya yang membuatku selalu deg-degan jika lewat rumahnya. Bukan karena rumah itu sepi. Tapi karena mengingat waktu ini, takkan bisa terhenti. Pak Jeri dan Oma yang baik pun kini tak kuasa melawan masa. Rumahnya seringkali jadi pengingat bahwa tak ada yang abadi di dunia. Semua silih berganti begitu saja. Sesekali di hari Minggu, kulihat sanak saudara yang entah dari mana, membersihkan rumah itu. Mengganti lampu, memotong daun dan ranting pohon mangga dan jambu yang mulai rimbun. Setelah akhir pekan usai, rumah itu kembali tak berpenghuni. Sesekali kudengar suara token listrik yang habis, berdecit.

Yah, rumah Pak Jeri selalu menjadi ruang ziarahku. Ruang mengingat hari di mana kita akan kembali. Ruang di mana kita tahu, waktu terus berjalan ke depan dan melaju. Setiap pagi, sebenarnya aku sering melewatinya kalau sedang ingin ke masjid. Aku sebenarnya bisa memilih jalan lainnya, tetapi melewati rumah Pak Jeri adalah jalan tercepat. Apalagi jika aku sedang terburu-buru. Terus terang saat melewatinya, aku selalu bertanya : Di dunia sana, apa yang Pak Jeri dan Oma kerjakan. Apa mereka sempat memikirkan rumah yang ditinggalkannya. 

Ketika akhirnya aku sampai di masjid pun, aku juga kembali tersadar soal waktu. Anak-anak kecil yang dulu berlarian dan bikin gaduh saat solat itu, kini telah berdiri tenang di sampingku. Tak rame lagi. Tak dorong-dorongan lagi. Tak lari ke sana kemari. Mereka telah tumbuh menjadi remaja belasan tahun hampir kuliah. Sudah sangat paham jika solat tak boleh bicara. Masih kuingat anak-anak itu adalah penghuni masjid paling wahid, tapi ramenya juga paling wahid. Kini mereka sudah dewasa, berarti memang mereka sudah digulung masa. Atau Pak Khoiri yang dulu menjadi Imam, kini juga sudah tak kuat lagi. Sakit tua telah membuatnya terbaring di tempat tidur sepanjang hari. Atau Mbah Ridho, dulu sering adzan kini tak lagi ada, karena telah tiada. 

Setelah berdoa, biasanya aku pun bergegas pulang. Ketika pulang, biasanya aku lebih lama merenungi saat lewat rumah Pak Jeri. Mungkin sehabis solat, aku jadi lebih ingat mati. Rumah Pak Jeri, seolah jadi kaligrafi yang memuat ayat-ayat suci. Ayat suci yang berbicara bahwa hidup ini tak ada yang abadi. Yang mengingatkan, bahwa setiap nyawa akan kembali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Getting Things Done : Seni Menyelesaikan Pekerjaan (David Allen) Part 1

TERBEBAS DARI STRESS DENGAN MENULISKAN TUGAS Tugas- tugas yang menumpuk, ide-ide yang belum terealisasi, pesan-pesan dari atasan, email yang berjubel, terkadang membuat pikiran kita terasa berat. Perasaan stress karena memikirkan, bagaimana menyelesaikannya satu persatu sering muncul. Lalu bagaimana langkah awal mengatasi ini? Salah satu cara mengatasi penuhnya pikiran kita adalah dengan menuliskan semua tugas tersebut. Dengan mengalihkan tugas tersebut ke catatan, berarti memberikan kesempatan otak untuk berhenti memikirkannya. Menulis juga dapat menurunkan kecemasan. Karena dengan ditulis kita akan memberikan kesempatan untuk diri kita melihat permasalahan secara menyeluruh dan obyektif. Dalam menuliskan semua tugas, kita bisa dibantu dengan organizer  atau aplikasi yang membantu. KATEGORISASIKAN TUGAS YANG DICATAT Setelah kita menuangkan semua ide, janji, tugas ke dalam catatan, kita perlu mengategorisasikannya. Kategorisasi  tugas dapat dilakukan berdasarkan  jenisnya...

Kesenjangan Jakarta dari Sudut Berbeda

Saat melintas di Jalan Jenderal Sudirman Jakarta,    kita akan terkagum-kagum melihat megahnya gedung-gedung    tinggi.    Betapa majunya    kota metropolitan ini, dihiasi kerlap-kerlip warna-warni.    Sejenak kemudian, kita memasuki salah satu    gedung. Lalu naik ke lantai tertinggi dan memandang Jakarta dari kaca jendela. Oh betapa terkagetnya kita, diantara    sela-sela gedung itu, ada rumah-rumah kecil, warung-warung    sederhana, parkiran  bahkan tumpukan sampah terselip.    Tampak kontras dengan gedung-gedung kelas atas. Sebuah kesenjangan? Bisa jadi. Atau ada    sudut pandang lain untuk membingkainya. Rumah rumah   kecil   yang terselip diantara    pencakar langit, sejatinya adalah entitas pendukung kehidupan kota.    Office Boy  ,  cleaning service ,  security    bahkan    karyawan yang bekerja di    ...

The 7 Habits of Highly Effective People (Stephen R Covey)

Membaca buku ini kita akan dibawa pada 7 Kebiasaan yang dapat meningkatkan produktivitas kita : Menjadi Proaktif, Bukan Reaktif.  Kebiasaan ini mendorong kita untuk selalu bertindak proporsional saat dihadapkan dengan berbagai tantangan. Saat menghadapi tantangan kita diminta untuk berfokus pada kondisi aktual dan difokuskan untuk mencari solusi, bukan menyalahkan keadaan. Alih-alih berkata ini salah si ini atau si itu, kita didorong untuk mencari potensi perbaikan dan jalan keluar yang bisa dijalankan. Begin With End in Mind (Memulai dengan tujuan akhir yang akan dituju ). Dalam memulai pekerjaan atau aktivitas, kita perlu memiliki visi jangka panjang. Kita harus memikirkan outcome apa yang hendak dituju, sehingga kita bisa memperinci langkah-langkah yang bisa dikerjakan. Dahulukan Yang Utama. Kebiasaan ini mendorong kita untuk memprioritaskan tujuan-tujuan utama daripada bereaksi terhadap urgensi.  Stephen R Covey menekankan pada pengaturan manajemen  diri dan pengatur...