Aku sudah lama tinggal di kompleks perumahan ini. Kalau dihitung menggunakan jari tangan, rasanya tak cukup untuk menghitungi. Harus kutambah dengan jari kaki baru mencukupi. Hampir 15 tahun. Namun kebiasaan baru berjalan kaki ini memberiku kesempatan sejenak untuk berhenti. Selama itu, aku tinggal di sini, rasanya tak sempat aku mengamati satu persatu. Semua sekadar selewat lalu. Sepertinya 15 tahun itu terlewat begitu saja. Aku sibuk bekerja. Sibuk dengan diriku sendiri. Tanpa sadar tetanggaku kini sudah silih berganti. Rumah-rumah pun kini berganti rupa, bertingkat tingkat berganti rupa.
Terkadang benar juga kata orang, waktu berputar begitu cepat. Bahkan yang setiap hari kulewati dan kutinggali, tak sempat kuamati. Berjalan kaki berhasil memperlambat waktu. Sehingga membuatku lebih menikmati langkah demi langkah yang melaju. Aku jadi tahu, titik jalan mana yang perlu diperbaiki. Titik jalan mana banyak kumpulan kucing bisa kutemui. Sesekali aku juga memungut sampah yang berserak di jalan. Menyingkirkan beling yang terserak. Pernah kudengar di pengajian, menyingkirkan halangan di jalan merupakan bentuk sedekahan. Rumah demi rumah tetangga kulewati. Ada yang sedang membangun, ada yang kini lebih besar, ada yang begitu-begitu saja.
Salah satu titik, di mana aku selalu berdesir saat melewatinya adalah rumah Pak Jeri. Dulu dia adalah orang Batak yang sangat ramah. Senang bercengkrama dan menyapa. Sering menawarkan bantuan kepada tetangga. Dia sebenarnya orang kaya. Rumahnya gabungan dari 2 rumah, jadi tak terkira luasnya. Pak Jeri sebenarnya jarang tinggal di rumah itu. Karena dia harus bekerja di Jakarta Barat. Yang menempati rumah itu adalah ibunya, yang sering kita panggil Oma. Perempuan sepuh, berusia 70 an. Meski begitu Oma masih aktif, bersih bersih sekitar rumah. Kalau Hari Minggu Oma selalu gereja dijemput ojek langganan. Karena ada Oma itu, makanya Pak Jeri tidak meningkat rumahnya. Di depan rumah Pak Jeri ada pohon mangga dan jambu air yang selalu berbuah. Kadang aku ijin mengambilnya.
Namun beberapa tahun lalu, Oma meninggal dunia. Setahun kemudian, Pak Jeri juga menyusulnya. Itulah yang sebenarnya yang membuatku selalu deg-degan jika lewat rumahnya. Bukan karena rumah itu sepi. Tapi karena mengingat waktu ini, takkan bisa terhenti. Pak Jeri dan Oma yang baik pun kini tak kuasa melawan masa. Rumahnya seringkali jadi pengingat bahwa tak ada yang abadi di dunia. Semua silih berganti begitu saja. Sesekali di hari Minggu, kulihat sanak saudara yang entah dari mana, membersihkan rumah itu. Mengganti lampu, memotong daun dan ranting pohon mangga dan jambu yang mulai rimbun. Setelah akhir pekan usai, rumah itu kembali tak berpenghuni. Sesekali kudengar suara token listrik yang habis, berdecit.
Yah, rumah Pak Jeri selalu menjadi ruang ziarahku. Ruang mengingat hari di mana kita akan kembali. Ruang di mana kita tahu, waktu terus berjalan ke depan dan melaju. Setiap pagi, sebenarnya aku sering melewatinya kalau sedang ingin ke masjid. Aku sebenarnya bisa memilih jalan lainnya, tetapi melewati rumah Pak Jeri adalah jalan tercepat. Apalagi jika aku sedang terburu-buru. Terus terang saat melewatinya, aku selalu bertanya : Di dunia sana, apa yang Pak Jeri dan Oma kerjakan. Apa mereka sempat memikirkan rumah yang ditinggalkannya.
Ketika akhirnya aku sampai di masjid pun, aku juga kembali tersadar soal waktu. Anak-anak kecil yang dulu berlarian dan bikin gaduh saat solat itu, kini telah berdiri tenang di sampingku. Tak rame lagi. Tak dorong-dorongan lagi. Tak lari ke sana kemari. Mereka telah tumbuh menjadi remaja belasan tahun hampir kuliah. Sudah sangat paham jika solat tak boleh bicara. Masih kuingat anak-anak itu adalah penghuni masjid paling wahid, tapi ramenya juga paling wahid. Kini mereka sudah dewasa, berarti memang mereka sudah digulung masa. Atau Pak Khoiri yang dulu menjadi Imam, kini juga sudah tak kuat lagi. Sakit tua telah membuatnya terbaring di tempat tidur sepanjang hari. Atau Mbah Ridho, dulu sering adzan kini tak lagi ada, karena telah tiada.
Setelah berdoa, biasanya aku pun bergegas pulang. Ketika pulang, biasanya aku lebih lama merenungi saat lewat rumah Pak Jeri. Mungkin sehabis solat, aku jadi lebih ingat mati. Rumah Pak Jeri, seolah jadi kaligrafi yang memuat ayat-ayat suci. Ayat suci yang berbicara bahwa hidup ini tak ada yang abadi. Yang mengingatkan, bahwa setiap nyawa akan kembali.

Komentar
Posting Komentar