Terkadang kita menganggap mengerjakan segala hal dalam satu hari adalah sesuatu yang produktif. Yang terjadi justru sebaliknya, kita hanya mengerjakan semuanya setengah jadi. Ibarat seorang penjahit baju yang menerima banyak orderan dalam waktu bersamaan. Mungkin dia bisa menyelesaikannya tapi dengan hasil yang kurang memuaskan semua pelanggan. Lain halnya jika dia hanya menerima 2 pesanan saja. Dia bisa lebih fokus dan menikmati proses pengerjaan jahitan dengan hasil yang bisa lebih baik. Buku karya Leo Babauta ini membahas bagaimana mengerjakan hal yang kecil dan terbatas namun justru lebih produktif.
Pernahkah kita merasa sibuk seharian, mengerjakan banyak hal, namun target kita justru tak terpenuhi. Multitasking yang konon membuat kerja kita efektif justru menguras dan memecah energi kita. Jebakan ilusi kesibukan ini membuat kita tak menyelesaikan apa apa. Mengerjakan sedikit hal bukan berarti malas, tapi memberikan ruang kita untuk lebih fokus. Lalu bagaimana memulai pekerjaan dengan fokus yang sedikit itu?
- Tentukan Prioritas yang benar-benar penting : Ini berarti bahwa kita perlu fokus pada apa yang menjadi prioritas pekerjaan yang bisa menghasilkan dampak dan melepaskan sebagian yang tak penting dan tak berdampak. Tentu kita ingat prinsip pareto, dimana 80 % pencapaian penting dihasilkan dari 20 % aktivitas yang penting. Nah kita perlu menemukan 20 % itu.
- Batasi Komitmen agar hasil berkualitas : Membatasi komitmen kita hanya untuk mengerjakan hal- hal bernilai tinggi menjadi langkah yang bisa kita lakukan. Kita perlu melihat kapasitas diri, di titik mana kita menjadi tidak produktif. Ketika kita sudah pada titik tersebut, kita bisa mulai membatasi komitmen. Memang hal tersulit dari langkah ini adalah saat mengucapkan kata tidak, jika ada tawaran atau permintaan untuk mengerjakan pekerjaan. Namun ada beberapa cara yang bisa kita lakukan. Misalnya dengan mengucapkan permohonan maaf pada orang yang menawari, kemudian menawarkan bantuan di lain waktu dan hindari alasan yang berbelit belit.
- Bangun kebiasaan satu persatu : Dalam membangun kebiasaan kita tidak perlu berpikir ingin menjalankan sekaligus. Kita bisa memulai dengan satu kebiasaan yang dilakukan dengan fokus. Mulailah dengan kebiasaan yang realistis. Misalnya jika ingin menulis buku: kita bisa memulai dulu menulis setengah halaman tapi dilakukan secara konsisten. Atau jika ingin membangun kebiasaan berlari, cobalah dengan menggunakan sepatu lari terlebih dahulu dan berjalan jalan di depan rumah. Jika itu sudah mulai konsisten, kebiasaan bisa ditingkatkan. Tidak perlu tergesa-gesa namun fokus.
- Atasi gangguan fokus di era teknologi informasi :Hal yang sering mengganggu saat bekerja saat ini adalah notifikasi dari gawai. Entah itu email yang masuk, pesan singkat, atau notifikasi social media. Itu membuat konsentrasi kita sering terganggu. Fokus menjadi hilang. Bahkan ide cemerlang menguap begitu saja. Untuk mengatasi ini, kita perlu menetapkan aturan dengan menentukan kapan kita bisa membuka email, mengecek pesan dan menengok social media.
- Buat alur kerja yang sederhana: Terkadang kita sibuk dengan hal-hal remeh. Kita juga disibukkan dengan pengambilan keputusan yang sebenarnya tak terlalu penting, misalnya tentang sarapan apa, pakai baju apa atau naik dengan kendaraan apa. Untuk itu kita perlu mengelompokan pekerjaan pekerjaan dalam kategori kategori yang mudah dipahami. Kita juga perlu membangun kebiasaan, agar mengurangi kelelahan mental dalam mengambil keputusan. Kita juga perlu menyingkirkan pekerjaan dan keputusan yang kurang penting.
Yang penting jangan salah menilai produktivitas dari lamanya waktu kerja. Ukurlah kemajuan dengan output yang nyata. Misalnya berapa artikel yang berhasil diselesaikan bukan sekedar menulis saja. Atau berapa email yang akhirnya terbalas, bukan hanya mengonsep tanpa mengirimkannya. Memfokuskan tenaga dan pikiran pada pekerjaan yang memberikan dampak besar adalah kunci dari produktifitas.
Komentar
Posting Komentar