Langsung ke konten utama

Postingan

Perundungan Berujung Kekerasan

Beberapa minggu lalu,   kita dikejutkan dengan berita ledakan yang terjadi di SMA 72 Jakarta. Puluhan siswa menjadi korban. Ironisnya, pelaku disinyalir merupakan siswa yang mengalami perundungan.   Belum selesai mengenai kabar itu, muncul berita perundungan lagi di wilayah lain. Seorang siswi SMP 19 Tangerang Selatan mengalami kekerasan fisik dari teman sekelasnya, hingga akhirnya meninggal dunia setelah dirawat di rumah sakit. Hal ini menarik sekali untuk dikaji. Dalam teori sosiologi, ada beberapa sudut pandang   mengapa fenomena perundungan bisa terjadi. Misalnya kita lihat dengan teori   yang diungkapkan Howard S. Becker seorang sosiolog dari Amerika Serikat, dalam buku Outsiders: Studies in the Sociology of Deviance (1963),   mengenai pelebelan ( labelling ). Dia menyampaikan bahwa perilaku menyimpang bukan semata-mata muncul karena tindakan seseorang, tetapi karena reaksi sosial yang memberi label kepada individu. Label itu kemudian membentuk identitas...
Postingan terbaru

Sepak Bola Indonesia, Haruskah Belajar dari Kapten Tsubasa?

Beberapa waktu lalu tim sepak bola senior Indonesia gagal melaju ke Piala Dunia, setelah hanya menduduki posisi ketiga di   Kualifikasi putaran keempat Piala Dunia. Meski begitu, timnas U-17 justru berhasil lolos ke putaran final Piala Dunia di Qatar. Namun harus terhenti di fase grup, dengan hanya mengantongi 3 poin setelah mengalahkan Honduras. Harapan masyarakat Indonesia, agar timnya melaju ke piala dunia sangat besar. Sehingga ketika timnas senior gagal lolos piala dunia, kekecewaan pun dituangkan dalam berbagai cara di sosial media. Sepak bola merupakan olah raga paling populer di Indonesia. Sebuah portal data statistik ternama, Country Cassette bahkan merilis data, bahwa penggemar sepak bola di Indonesia menduduki nomor tiga terbesar di dunia, yakni 165,48 juta penggemar. Peringkat Indonesia, hanya berada di bawah Brasil dan China. Hal ini membuktikan bahwa sekitar 57 % penduduk Indonesia adalah penggemar sepak bola. Namun jumlah penggemar itu tak mampu membuat timnas mel...

The Power of Less (Leo Babatua)

Terkadang kita menganggap mengerjakan segala hal dalam satu hari adalah sesuatu yang produktif. Yang terjadi justru sebaliknya, kita hanya mengerjakan semuanya setengah jadi. Ibarat seorang penjahit baju yang menerima banyak orderan dalam waktu bersamaan. Mungkin dia bisa menyelesaikannya tapi dengan hasil yang kurang memuaskan semua pelanggan. Lain halnya jika dia hanya menerima 2 pesanan saja. Dia bisa lebih fokus dan menikmati proses pengerjaan jahitan dengan hasil yang bisa lebih baik. Buku karya Leo Babauta ini membahas bagaimana mengerjakan hal yang kecil dan terbatas   namun justru lebih produktif. Pernahkah kita merasa sibuk seharian, mengerjakan banyak hal, namun target kita justru tak terpenuhi. Multitasking yang konon membuat kerja kita efektif justru menguras dan memecah energi kita. Jebakan ilusi kesibukan ini membuat kita tak menyelesaikan apa apa. Mengerjakan sedikit hal bukan berarti malas, tapi memberikan ruang kita untuk lebih fokus. Lalu bagaimana memulai pe...

Rumah Pak Jeri

Berjalan di pagi hari adalah kebiasaan baru yang menyenangkan bagiku. Menikmati langit yang berubah warna. Mendengarkan kicauan burung yang  aku sendiri tak tahu bentuknya. Menyusuri rumah- rumah tetangga. Menghirup masakan ibu-ibu yang menyiapkan bekal untuk anaknya. Tiap rumah kurasakan berbeda aroma masakannya. Terkadang tercium nasi goreng, sesekali merebak aroma ubi rebus, dan muncul juga aroma telor ceplok yang menggugah selera. Beberapa kali memang aku sengaja tak pake alas kaki. Kubiarkan kakiku mencium tanah dan rumput. Bergesekan  dengan kerikil dan batu. Biarlah tubuh ini merasakan bumi. Toh aku memang dari bumi. Dan kelak akan kembali ke bumi. Aku sudah lama tinggal di kompleks perumahan ini. Kalau dihitung menggunakan jari tangan, rasanya tak cukup untuk menghitungi. Harus kutambah dengan jari kaki baru mencukupi. Hampir 15 tahun. Namun kebiasaan baru berjalan kaki ini memberiku kesempatan sejenak untuk berhenti. Selama itu, aku tinggal di sini, rasanya tak sempat...

”Jebakan” Kata Pengangguran dan Kemiskinan

Seminggu lalu, setelah menaruh mobil di bengkel, saya membeli kopi keliling. Kopi bercampur susu vanila saya pilih untuk mengobati rasa haus ini. Sambil menikmatinya, saya ngobrol dengan penjualnya. Pertanyaan dimulai dengan : Apakah dia memang sering mangkal di tempat ini? Dan saya lanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan "teknis" tentang jualannya. Baru saya tahu, bahwa motor dan gerobaknya gratis, karena dipinjami bosnya.  Setiap gelas yang terjual, dia dapat insentif 1.000 rupiah.  Gajinya sendiri, 2 juta per bulan. Sehari, dia paling banyak bisa jual 50 gelas kalau ramai. Artinya, bisa bawa uang tambahan 50 ribu per hari, di samping gajinya.  Lalu saya berandai-andai. Jika dia berhasil jual 50 gelas setiap hari selama sebulan, maka dia bisa bawa pulang uang 3,5 juta di bulan itu. Tapi kalau tidak maksimal, berarti dia hanya mengantongi  lebih sedikit. Ini berarti apakah dia bisa jual maksimal atau tidak, penghasilannya masih di bawah upah minimum UMP Jakarta yang ...

5 Bahasa Cinta

Memahami bahasa cinta seseorang merupakan kunci dalam menjaga hubungan. Dalam bukunya, Gary Chapman menyampaikan ada 5 Bahasa Cinta yang perlu kita kenali : Kekuatan Kata yang Tulus : Bagi sebagian orang kata-kata memiliki makna yang luar biasa. Sebuah perkataan seperti “ Aku Bangga sama kamu”, bisa membuat hati mereka menjadi hangat seharian. Orang dengan bahasa cinta ini  sangat peka untuk membedakan mana ucapan yang keluar dari  hati  dan mana yang sekadar basa-basi. Ucapan terima kasih akan membuat dia merasa benar-benar dihargai. Sebaliknya, diam- diam terlalu lama  atau jarang mengungkapkan rasa sayang bisa membuat dirinya merasa tidak penting. Hadir dengan Waktu yang Berkualitas : Bagi orang dengan bahasa cinta ini, kehadiran sepenuhnya lebih berharga daripada hadiah atau kata-kata. Mereka ingin merasa bahwa kamu selalu bersamanya. Tidak ada distorsi layar telepon, tidak ada pikiran yang melayang kemana-mana. Kualitas waktu tidak selalu berarti melakukan hal...

Mengenal Teori Prospek dalam Pengambilan Keputusan

Dalam pengambilan keputusan, kita mengenal apa yang disebut dengan teori prospek. Teori prospek adalah model psikologi yang dikembangkan oleh Daniel Kahneman dan Amos Tversky. Teori ini menjelaskan  bagaimana orang membuat pilihan di bawah ketidakpastian, terutama mempertimbangkan keuntungan dan kerugian relatif. Teori ini menunjukkan bahwa orang cenderung menghindari risiko ketika dihadapkan pada keuntungan. Tetapi memilih risiko ketika dihadapkan pada kerugian. Sebuah fenomena  yang disebut dengan keengganan terhadap risiko. 1. Loss Aversion (Aversi terhadap Kerugian) Rasa kehilangan lebih sakit daripada rasa senang saat mendapatkan hal yang sama. Contoh: Kamu menemukan uang Rp100.000 di jalan — rasanya senang banget. Tapi besoknya kamu kehilangan Rp100.000 — rasanya jauh lebih menyakitkan, meskipun secara total kamu “impas.” Ini menunjukkan bahwa kerugian terasa dua kali lebih berat daripada keuntungan yang sama nilainya. 2. Reference Dependence (Titik Acua...