Langsung ke konten utama

Perundungan Berujung Kekerasan

Beberapa minggu lalu,  kita dikejutkan dengan berita ledakan yang terjadi di SMA 72 Jakarta. Puluhan siswa menjadi korban. Ironisnya, pelaku disinyalir merupakan siswa yang mengalami perundungan.  Belum selesai mengenai kabar itu, muncul berita perundungan lagi di wilayah lain. Seorang siswi SMP 19 Tangerang Selatan mengalami kekerasan fisik dari teman sekelasnya, hingga akhirnya meninggal dunia setelah dirawat di rumah sakit.

Hal ini menarik sekali untuk dikaji. Dalam teori sosiologi, ada beberapa sudut pandang  mengapa fenomena perundungan bisa terjadi. Misalnya kita lihat dengan teori  yang diungkapkan Howard S. Becker seorang sosiolog dari Amerika Serikat, dalam buku Outsiders: Studies in the Sociology of Deviance (1963),  mengenai pelebelan (labelling). Dia menyampaikan bahwa perilaku menyimpang bukan semata-mata muncul karena tindakan seseorang, tetapi karena reaksi sosial yang memberi label kepada individu. Label itu kemudian membentuk identitas diri. Karena anak yang dirundung dipandang berbeda dengan para pelaku, maka  korban pun di-labeli dengan istilah tertentu, misalnya dengan sebutan negatif seperti si aneh, si cemen, si bodoh atau sebutan lainnya. Dengan label yang diberikan dan diulang terus menerus oleh para pelaku, si korban pun menjadi semakin berbeda dan berjarak. Bahkan lebih jauh perundungan ini membuat si korban “memiliki status sosial rendah“. Hal tersebut membuat seolah setiap orang terlegitimasi untuk bisa merundung si korban. Parahnya, guru terkadang tidak menyadari hal itu berbahaya, karena menganggap labelling adalah sesuatu yang biasa.

Di era masyarakat digital saat ini, dimana  norma sosial melemah, individu kehilangan arah, dan  masyarakat tidak memberi pedoman hidup, perundungan bisa bergulir menjadi sesuatu berdampak fatal. Meminjam istilah yang disampaikan sosiolog klasik, Emile Durkheim, masyarakat saat ini mengalami apa yang disebut anomie. Situasi yang  menyebabkan individu merasa terasing, tidak memiliki tujuan, dan kebingungan karena tidak ada pedoman yang jelas untuk perilaku mereka. Dalam keadaan seperti ini,  korban perundungan akan semakin merasa “sakit secara sosial“. Korban perundungan merasa tidak diterima secara kelompok, tidak memiliki peran yang diakui dan terasing di komunitas sekolahnya. Kondisi demikian bisa mendorong munculnya perilaku menyimpang yang diakibatkan oleh hilangnya pedoman sosial. Perilaku itu bisa terwujud berbagai macam, misalnya sang korban menjadi penyendiri, bahkan dalam tingkatan yang lebih ekstrim, korban mengakhiri hidupnya.

Apalagi jika sang korban melihat bahwa pelaku yang merundungnya tidak dihukum dan terkesan dibiarkan. Dia akan merasa bahwa aturan dan norma tidak dapat melindunginya.  Akibatnya adalah korban menjadi tidak percaya aturan dan norma sosial  itu sendiri. Korban pun menciptakan referensi normanya sendiri sebagai reaksi ketidakberdayaannya. Ketidakberdayaan dan keterasingan itu mendorong respon negatif yang bisa berupa balas dendam, kekerasan, atau kenakalan.

Di era dimana sudah tidak ada batasan dalam mencari informasi, korban perundungan bisa jadi mengakses referensi yang salah di internet untuk menghadapi keadaanya. Seperti yang terjadi pada pelaku peledakan di SMA 72 Jakarta, dimana dia justru terinspirasi melakukan tindakan kejahatan dari pelaku kejahatan serupa di luar negeri.

Lalu pertanyaannya, bagaimana kita bisa mencegah perundungan yang berakibat fatal? Pertama, semua pihak yang terlibat dalam pendidikan di sekolah, menetapkan norma sosial anti perundungan yang jelas dan tegas. Setiap pelanggaran yang terjadi harus dihukum dan ditindak tegas. Kondisi ini akan mengirimkan pesan ke semua, bahwa di sekolah masih ada aturan yang melindungi.

Kedua, adalah mendorong agar semua siswa terintegrasi dalam jaringan sosial yang berada di sekolah. Hal ini mencegah adanya siswa yang terisolasi dan terasing di sekolahnya. Siswa  bisa didorong agar mengikuti kegiatan-kegiatan kebersamaan yang dapat menghubungkannya dengan siswa lain secara positif, misalnya ikut ekstrakurikuler.

Ketiga adalah dorong munculnya solidaritas di sekolah, yang memunculkan rasa empati, kebersamaan dan saling menghargai.  Ciptakan perasaan satu keluarga. Hal ini bisa diwujudkan dengan memperbanyak kegiatan atau proyek kelas yang lintas kelas atau kelompok. Dengan demikian, harapan terjadinya  dampak buruk perundungan dapat ditekan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Omelan-Omelan Ibu

  "Burhan, bangun, sudah jam 6 pagi, kau ini solat subuh selalu telat. Mau jadi apa kau nanti," suara ibu menyeruak menembus setengah kesadaranku.  " Sudah kubangunkan sejak  jam setengah lima, matamu terpejam saja bagai terkena lem," sentaknya tak henti-henti. Segera kuambil kaca mataku, kulirik layar telepon dan  memang sudah jam 6 lebih. Sinar matahari telah menerobos di sela-sela gorden lusuh kamarku.  Kuayunkan kaki gontai menembus ruang tengah yang sudah ramai oleh sibuknya anggota keluarga. Menuju kamar mandi, kuambil air penyuci. Solat bagiku masih kurasakan layaknya beban ransel gunung yang tergantung di punggung. Berat, terkadang harus kuseret, tetapi harus kubawa. Di usiaku yang sudah menginjak 20-an, aku sering malas mengerjakanya. Subuh kulakukan  hampir saat matahari telah bersinar terlalu tajam. Itu pun karena ibuku selalu teriak-teriak. Dzuhur, kukerjakan mepet dengan Ashar, biar aku hanya wudlu sekali jalan. Maghrib kadang terlewat. Isya og...

Muhammad A Kiong

Jika ditanya soal tempat yang paling nyaman selain kamarku, jawabnya adalah masjid kampus UGM. Walaupun aku sendiri bukan mahasiswa universitas itu. Terkadang bisa berjam-jam aku duduk di sana, membaca buku atau diskusi bersama kawan. Hawanya begitu menyejukkan. Tempatnya pun bersih dan indah. Hingga suatu hari aku bertemu dengan laki-laki aneh. Seseorang yang sangat mengagumkan sekaligus membingunganku. Saat itu, aku baru saja solat isya di sana. Usai berdoa, seperti biasa aku duduk di teras masjid. Menatap ke dalam lapangan luas berpohon palem. Untuk sekadar menghirup udara segar. Malam itu cukup cerah, bulan tak malu menampakkan diri. Padahal sore tadi, Jogja sempat diguyur hujan deras. “Assalamualaikum,” sapa laki-laki itu “Walaikum salam,” jawabku singkat. “Lagi menunggu siapa, mas?” “Wah, hanya cari udara segar di sini,” “Iya di sini memang menyejukkan, mas. Sudah lama saya jadi jamaah sini,” jawabnya. Kuperhatikan lebih dekat laki-laki itu. Ah...matanya sipit, seperti oran...

The 7 Habits of Highly Effective People (Stephen R Covey)

Membaca buku ini kita akan dibawa pada 7 Kebiasaan yang dapat meningkatkan produktivitas kita : Menjadi Proaktif, Bukan Reaktif.  Kebiasaan ini mendorong kita untuk selalu bertindak proporsional saat dihadapkan dengan berbagai tantangan. Saat menghadapi tantangan kita diminta untuk berfokus pada kondisi aktual dan difokuskan untuk mencari solusi, bukan menyalahkan keadaan. Alih-alih berkata ini salah si ini atau si itu, kita didorong untuk mencari potensi perbaikan dan jalan keluar yang bisa dijalankan. Begin With End in Mind (Memulai dengan tujuan akhir yang akan dituju ). Dalam memulai pekerjaan atau aktivitas, kita perlu memiliki visi jangka panjang. Kita harus memikirkan outcome apa yang hendak dituju, sehingga kita bisa memperinci langkah-langkah yang bisa dikerjakan. Dahulukan Yang Utama. Kebiasaan ini mendorong kita untuk memprioritaskan tujuan-tujuan utama daripada bereaksi terhadap urgensi.  Stephen R Covey menekankan pada pengaturan manajemen  diri dan pengatur...