Langsung ke konten utama

Getting Things Done : Seni Menyelesaikan Pekerjaan (David Allen) Part 1

TERBEBAS DARI STRESS DENGAN MENULISKAN TUGAS
  • Tugas- tugas yang menumpuk, ide-ide yang belum terealisasi, pesan-pesan dari atasan, email yang berjubel, terkadang membuat pikiran kita terasa berat. Perasaan stress karena memikirkan, bagaimana menyelesaikannya satu persatu sering muncul. Lalu bagaimana langkah awal mengatasi ini? Salah satu cara mengatasi penuhnya pikiran kita adalah dengan menuliskan semua tugas tersebut. Dengan mengalihkan tugas tersebut ke catatan, berarti memberikan kesempatan otak untuk berhenti memikirkannya.
  • Menulis juga dapat menurunkan kecemasan. Karena dengan ditulis kita akan memberikan kesempatan untuk diri kita melihat permasalahan secara menyeluruh dan obyektif.
  • Dalam menuliskan semua tugas, kita bisa dibantu dengan organizer  atau aplikasi yang membantu.
KATEGORISASIKAN TUGAS YANG DICATAT
  • Setelah kita menuangkan semua ide, janji, tugas ke dalam catatan, kita perlu mengategorisasikannya. Kategorisasi  tugas dapat dilakukan berdasarkan  jenisnya, misalnya tugas untuk di kantor, tugas di rumah maupun tugas pribadi. Sistem pengkategorian hendaknya memudahkan kita  melacak dan mengelolanya.
  • Kita juga perlu menyusun skala prioritas. Mana pekerjaan yang bisa dikerjakan lebih dulu dan mana yang bisa ditunda pengerjaannya,
MENETAPKAN LANGKAH PEKERJAAN YANG JELAS
  • Setelah kita membuat kategori tugas berdasarkan kepentingan dan lingkupnya, maka kita perlu menetapkan langkah-langkah pekerjaan yang perlu dijalankan dengan jelas. Misalnya kita memiliki tugas untuk menulis email. Maka kita bisa menetapkan langkah-langkah sebagai berikut : membuat draft email, mencari alamat email yang dituju, menyiapkan lampiran yang akan dikirim. Setelah satu pekerjaan selesai, kita perlu bertanya apa pekerjaan selanjutnya. Menetapkan langkah-langkah pekerjaan  dengan jelas dan runut membuat kita bergerak ke arah yang jelas.
GUNAKANLAH SISTEM PENGINGAT

Pengingat digital seperti aplikasi Microsoft tema/outlook akan sangat berguna untuk menjadi alat yang akan mengingatkan pekerjaan. Selain itu, pengingat fisik seperti kalender  dan sticky note juga dapat digunakan.

SEDERHANAKAN KEPUTUSAN

Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu dihadapkan dengan berbagai hal yang harus diputuskan. Seperti terkait pakaian yang harus digunakan, makan apa pagi ini, menggunakan transportasi apa saat ke kantor. Hal-hal tersebut membuat pikiran terbebani. Untuk  mengurangi beban tersebut, kita perlu menyederhanakan pilihan dengan beberapa langkah berikut ini.

Jika terlalu banyak pilihan dalam pekerjaan, kita bisa memulai dengan mendelegasikan keputusan ke tim yang lain. Misalnya jika kamu memimpin satu tim proyek pembangunan, keputusan-keputusan teknis bisa kita berikan kepada tim ahli di lapangan. Untuk urusan desain, bisa kamu serahkan ke arsitek yang jago, untuk masalah  konstruksi bisa diserahkan ke tim sipil. Selanjutnya, jika memang mereka tidak bisa memutuskan dan kita yang harus memutuskan, kita gunakan 5 langkah pengambilan keputusan :

  1. Kumpulkan informasi yang relevan sebelum membuat keputusan. Kekuatan data dan informasi menjadi kunci di tahap ini. Jika ada riwayat atau catatan menjadi hal yang bisa dipertimbangkan.
  2. Tentukan alternatif yang tersedia. Jangan buru-buru mengambil keputusan.
  3. Evaluasi pro dan kontra masing-masing pilihan yang tersedia.
  4. Pilih yang terbaik dan paling relevan risikonya.
  5. Tindak lanjuti dengan langkah-langkah yang jelas.
Kadang-kadang kita sendiri juga merasa lelah memutuskan pilihan-pilihan. Hal ini bisa diatasi dengan menetapkan kebiasaan-kebiasaan yang efektif, jadi kita tidak perlu memilih lagi. Misalnya menyiapkan pakaian yang akan dipakai sesuai jadwal, sarapan tiap pagi, menetapkan aktivitas rutin.  Kebiasaan yang terbentuk dengan baik akan mengurangi pengambilan-pengambilan keputusan tiap pagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kesenjangan Jakarta dari Sudut Berbeda

Saat melintas di Jalan Jenderal Sudirman Jakarta,    kita akan terkagum-kagum melihat megahnya gedung-gedung    tinggi.    Betapa majunya    kota metropolitan ini, dihiasi kerlap-kerlip warna-warni.    Sejenak kemudian, kita memasuki salah satu    gedung. Lalu naik ke lantai tertinggi dan memandang Jakarta dari kaca jendela. Oh betapa terkagetnya kita, diantara    sela-sela gedung itu, ada rumah-rumah kecil, warung-warung    sederhana, parkiran  bahkan tumpukan sampah terselip.    Tampak kontras dengan gedung-gedung kelas atas. Sebuah kesenjangan? Bisa jadi. Atau ada    sudut pandang lain untuk membingkainya. Rumah rumah   kecil   yang terselip diantara    pencakar langit, sejatinya adalah entitas pendukung kehidupan kota.    Office Boy  ,  cleaning service ,  security    bahkan    karyawan yang bekerja di    ...

Prinsip 80-20 (Richard Koch)

Prinsip ini pertama kali ditemukan oleh Vilfredo Pareto di Italia. Dia menemukan bahwa di akhir 19, bahwa 80% tanah di Italia dimiliki oleh 20 % penduduk. Pola ini ternyata konsisten di berbagai bidang.  Saat ini prinsip ini dikenal dengan Hukun. Pareto. Dalam bisnis berjualan misalnya, 80 % bisa jadi berasal dari 20% pelanggan atau 20% produk tertentu. Berdasarkan prinsip tersebut, kita perlu mengidentifikasi hal-hal apa saja yang sangat berpengaruh pada produktivitas hidup kita. Oleh karena itu, dalam bukunya ini, Richard Koch menyampaikan beberapa cara bagaimana bisa kita menerapkan prinsip ini dalam kehidupan sehari-hari : Amati & catat semua aktivitas, proyek atau segala sesuatu yang memberi hasil terbesar. Hilangkan atau kurangi hal-hal yang menghabiskan waktu tanpa memberi manfaat yang signifikan. Alihkan waktu, energi dan sumber daya ke hal-hal yang membuat lebih produktif. Dalam penerapannya prinsip ini sering menemukan beberapa kesalahan : Menganggap bahwa prinsip 80-...