Langsung ke konten utama

IKIGAI (Hector Gracia & Francesc Miralles)

Apakah yang membuat dirimu bersemangat saat bangun di pagi hari. Apa yang membuat dirimu tertarik menyambut hari? Alasannya, bisa pekerjaan yang menyenangkan, liburan yang yang seru atau hal-hal lainnya. Pada masyarakat Jepang dikenal sebuah konsep bernama IKIGAI. Secara istilah IKIGAI berarti alasan untuk hidup. IKIGAI merupakan sebuah konsep  yang membuat orang Jepang bersemangat untuk menjalani hari-harinya. Konsep hidup ini sendiri merupakan persimpangan di antara 4 pilar utama :

  1. Apa yang kita cintai (passion) : Hal-hal yang membuat kita bahagia  dan bersemangat saat kita melakukannya.
  2. Apa yang kita kuasai (vocation) : Hal-hal yang bisa kita lakukan dengan baik.
  3. Apa yang dibutuhkan dunia (mission) : Apa-apa yang bisa kita berikan untuk memecahkan masalah-masalah di dunia ini.
  4. Apa yang membuat kita bisa dibayar (profesional): Aktivitas yang bisa memberikan penghasilan.
Dalam sebuah penelitian di wilayah Okinawa Jepang yang dilakukan oleh Hector Gracia dan Francesc Miralles menunjukkan bahwa penerapan prinsip IKIGAI ini berpengaruh pada pola hidup masyarakat di sana yang rata-rata berumur panjang (lebih dari 100 tahun). Bahkan Okinawa merupakan  wilayah dengan penduduk berumur terpanjang di dunia. Terdapat 10 prinsip yang diterapkan dalam IKIGAI:
  1. Tetap aktif walaupun sudah pensiun. Masyarakat di sana tetap terlibat dalam aktivitas dan pekerjaan  bermakna dalam komunitas untuk menjaga pikiran dan fisik agar tetap aktif.
  2. Jangan terburu-buru. Melakukan segala proses secara perlahan. Hidup adalah proses dan bukan tujuan sehingga jangan terburu-buru.
  3. Jangan terlalu kenyang. Masyarakat Jepang menerapkan makan maksimal 80% dari kapasitas. Prinsip ini dikenal dengan Hara Hachi Bu. Selain masyarakat Okinawa juga mengonsumsi gula dan garam lebih sedikit dari masyarakat Jepang pada umumnya. Gula dan garam dianggap mempercepat penuaan.
  4. Memiliki lingkar pertemanan yang baik dan suportif. Ini salah satu hal yang membuat masyarakat Okinawa tidak merasa sendiri saat menghadapi masalah.
  5. Jaga kebugaran tubuh dengan olah raga rutin tiap hari.
  6. Tersenyumlah. Senyum dapat melepaskan hormon endorphin yang dapat mengurangi stres.
  7. Kembali ke alam. Alam menyediakan segala sesuatu yang kita butuhkan.
  8. Bersyukur. Selalu mensyukuri nikmat yang sudah didapatkan adalah kunci ketenangan.
  9. Hidup di saat ini. Jangan terlalu menyesali apa yang sudah terjadi dan jangan over thinking tentang apa yang akan terjadi di masa depan.
  10. Carilah IKIGAI kita yang sebenarnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Getting Things Done : Seni Menyelesaikan Pekerjaan (David Allen) Part 1

TERBEBAS DARI STRESS DENGAN MENULISKAN TUGAS Tugas- tugas yang menumpuk, ide-ide yang belum terealisasi, pesan-pesan dari atasan, email yang berjubel, terkadang membuat pikiran kita terasa berat. Perasaan stress karena memikirkan, bagaimana menyelesaikannya satu persatu sering muncul. Lalu bagaimana langkah awal mengatasi ini? Salah satu cara mengatasi penuhnya pikiran kita adalah dengan menuliskan semua tugas tersebut. Dengan mengalihkan tugas tersebut ke catatan, berarti memberikan kesempatan otak untuk berhenti memikirkannya. Menulis juga dapat menurunkan kecemasan. Karena dengan ditulis kita akan memberikan kesempatan untuk diri kita melihat permasalahan secara menyeluruh dan obyektif. Dalam menuliskan semua tugas, kita bisa dibantu dengan organizer  atau aplikasi yang membantu. KATEGORISASIKAN TUGAS YANG DICATAT Setelah kita menuangkan semua ide, janji, tugas ke dalam catatan, kita perlu mengategorisasikannya. Kategorisasi  tugas dapat dilakukan berdasarkan  jenisnya...

Kesenjangan Jakarta dari Sudut Berbeda

Saat melintas di Jalan Jenderal Sudirman Jakarta,    kita akan terkagum-kagum melihat megahnya gedung-gedung    tinggi.    Betapa majunya    kota metropolitan ini, dihiasi kerlap-kerlip warna-warni.    Sejenak kemudian, kita memasuki salah satu    gedung. Lalu naik ke lantai tertinggi dan memandang Jakarta dari kaca jendela. Oh betapa terkagetnya kita, diantara    sela-sela gedung itu, ada rumah-rumah kecil, warung-warung    sederhana, parkiran  bahkan tumpukan sampah terselip.    Tampak kontras dengan gedung-gedung kelas atas. Sebuah kesenjangan? Bisa jadi. Atau ada    sudut pandang lain untuk membingkainya. Rumah rumah   kecil   yang terselip diantara    pencakar langit, sejatinya adalah entitas pendukung kehidupan kota.    Office Boy  ,  cleaning service ,  security    bahkan    karyawan yang bekerja di    ...

Prinsip 80-20 (Richard Koch)

Prinsip ini pertama kali ditemukan oleh Vilfredo Pareto di Italia. Dia menemukan bahwa di akhir 19, bahwa 80% tanah di Italia dimiliki oleh 20 % penduduk. Pola ini ternyata konsisten di berbagai bidang.  Saat ini prinsip ini dikenal dengan Hukun. Pareto. Dalam bisnis berjualan misalnya, 80 % bisa jadi berasal dari 20% pelanggan atau 20% produk tertentu. Berdasarkan prinsip tersebut, kita perlu mengidentifikasi hal-hal apa saja yang sangat berpengaruh pada produktivitas hidup kita. Oleh karena itu, dalam bukunya ini, Richard Koch menyampaikan beberapa cara bagaimana bisa kita menerapkan prinsip ini dalam kehidupan sehari-hari : Amati & catat semua aktivitas, proyek atau segala sesuatu yang memberi hasil terbesar. Hilangkan atau kurangi hal-hal yang menghabiskan waktu tanpa memberi manfaat yang signifikan. Alihkan waktu, energi dan sumber daya ke hal-hal yang membuat lebih produktif. Dalam penerapannya prinsip ini sering menemukan beberapa kesalahan : Menganggap bahwa prinsip 80-...