Langsung ke konten utama

Atomic Habits (James Clear)

Menciptakan kebiasaan positif sering menjadi tantangan untuk kita semua. James Clear, dalam bukunya Atomic Habits  mengajarkan bagaimana memulai kebiasaan dengan langkah-langkah sederhana. Berikut adalah beberapa tahapan-tahapan yang mungkin bisa kita jalankan:

  1. Melekatkan identitas pada tujuan atau kebiasaan yang ingin dicapai. Biasanya orang sudah memiliki tujuan yang ingin hendak dicapai. Namun karena tujuan itu tampak masih jauh dicapai, maka orang seringkali kehilangan motivasi di tengah jalan. Dengan melekatkan tujuan yang hendak dicapai pada identitas diri kita, akan membuat gerak  dan perilaku kita terarah dengan sendirinya. Misalnya kita ingin belajar berlari sejauh 10 Km, maka katakan dalam diri kita “ Saya adalah pelari”, dengan begitu kita akan termotivasi. Di jaman ini, untuk menguatkan identitas kita sebagai pelari, kita bisa mengunggahnya di media sosial aktivitas lari yang kita lakukan. Sehingga menguatkan dan meyakinkan diri kita dan mendorong orang lain melihat kita sebagai orang yang gemar lari. Sehingga dorongan untuk berusaha berlari menjadi semakin kuat.
  2. Buat kebiasaan terlihat mudah diterapkan. Otak kita bekerja seperti radar. Begitu ada pemicu kita cenderung melakukan kebiasaan. Jikalau kita inginmenumbuhkan kebiasaan minum air, maka letakkan air di tempat yang mudah dijangkau dan dilihat. Buat tempat dan situasi yang membuat kita terpicu melakukan kebiasaan baik itu dilakukan.
  3. Gunakanlah prinsip temptation bundling, yaitu melekatkan suatu kebiasaan yang diinginkan  dengan sesuatu yang menyenangkan hati.Misalnya kamu boleh nonton film kesukaanmu setelah kamu melakukan olah raga.
  4. Jadikan kebiasaan positif mudah untuk dimulai :
    • Semakin mudah kebiasaan dilakukan semakin besar kita bisa mengulanginya.
    • Orang gagal melakukan kebiasaan karena langkah awalnya berat.
    • Menghilangkan hambatan berarti membuat langkah pertama tanpa hambatan.
    • Prinsip 2 menit adalah salah satu cara yang bisa kita lakukan. Prinsip ini mengajarkan dengan memulai kebiasaan selama 2 menit atau kurang membuat kebiasaan dilakukan tanpa membebani.
    • Kebiasaan juga bisa dibantu, dengan otomatisasi, misalnya kebiasaan bangun pagi bisa dibantu dengan alarm jam.
    • Kunci dari semuanya adalah atur lingkungan dan sistem sehingga mudah melakukan kebiasaan.
  5. Berikan hadiah untuk membuat kebiasaan menjadi sesuatu yang memuaskan hati. Tanda keberhasilan akan membuat kita terus termotivasi. Misalnya kita menandai hari atau tanggal di mana kita berhasil melakukan kebiasaan tersebut. Keberhasilan yang tampak dan tervisualisasi akan mendorong kita untuk melakukan lebih baik. Misalnya kita ingin berjalan 10.000 langkah sehari, dengan menggunakan smart watch yang dapat mengukur jumlah langkah akan memacu kita untuk lebih berusaha.
  6. Kebiasaan buruk diubah dengan langkah positif
    • Kebiasaan buruk bisa dihilangkan dengan mempersulit akses, sembunyikan pemicunya, buat tidak menarik dan hilangkan rasa puas yang menyertainya.
    • Namun kita perlu mengisi kekosongan kepuasan yang dihilangkan tersebut dengan kebiasaan lain yang bisa menimbulkan kepuasan. Misalnya kebiasaan bermain handphone  saat mau tidur bisa diganti dengan kebiasaan membaca buku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Omelan-Omelan Ibu

  "Burhan, bangun, sudah jam 6 pagi, kau ini solat subuh selalu telat. Mau jadi apa kau nanti," suara ibu menyeruak menembus setengah kesadaranku.  " Sudah kubangunkan sejak  jam setengah lima, matamu terpejam saja bagai terkena lem," sentaknya tak henti-henti. Segera kuambil kaca mataku, kulirik layar telepon dan  memang sudah jam 6 lebih. Sinar matahari telah menerobos di sela-sela gorden lusuh kamarku.  Kuayunkan kaki gontai menembus ruang tengah yang sudah ramai oleh sibuknya anggota keluarga. Menuju kamar mandi, kuambil air penyuci. Solat bagiku masih kurasakan layaknya beban ransel gunung yang tergantung di punggung. Berat, terkadang harus kuseret, tetapi harus kubawa. Di usiaku yang sudah menginjak 20-an, aku sering malas mengerjakanya. Subuh kulakukan  hampir saat matahari telah bersinar terlalu tajam. Itu pun karena ibuku selalu teriak-teriak. Dzuhur, kukerjakan mepet dengan Ashar, biar aku hanya wudlu sekali jalan. Maghrib kadang terlewat. Isya og...

Muhammad A Kiong

Jika ditanya soal tempat yang paling nyaman selain kamarku, jawabnya adalah masjid kampus UGM. Walaupun aku sendiri bukan mahasiswa universitas itu. Terkadang bisa berjam-jam aku duduk di sana, membaca buku atau diskusi bersama kawan. Hawanya begitu menyejukkan. Tempatnya pun bersih dan indah. Hingga suatu hari aku bertemu dengan laki-laki aneh. Seseorang yang sangat mengagumkan sekaligus membingunganku. Saat itu, aku baru saja solat isya di sana. Usai berdoa, seperti biasa aku duduk di teras masjid. Menatap ke dalam lapangan luas berpohon palem. Untuk sekadar menghirup udara segar. Malam itu cukup cerah, bulan tak malu menampakkan diri. Padahal sore tadi, Jogja sempat diguyur hujan deras. “Assalamualaikum,” sapa laki-laki itu “Walaikum salam,” jawabku singkat. “Lagi menunggu siapa, mas?” “Wah, hanya cari udara segar di sini,” “Iya di sini memang menyejukkan, mas. Sudah lama saya jadi jamaah sini,” jawabnya. Kuperhatikan lebih dekat laki-laki itu. Ah...matanya sipit, seperti oran...

The 7 Habits of Highly Effective People (Stephen R Covey)

Membaca buku ini kita akan dibawa pada 7 Kebiasaan yang dapat meningkatkan produktivitas kita : Menjadi Proaktif, Bukan Reaktif.  Kebiasaan ini mendorong kita untuk selalu bertindak proporsional saat dihadapkan dengan berbagai tantangan. Saat menghadapi tantangan kita diminta untuk berfokus pada kondisi aktual dan difokuskan untuk mencari solusi, bukan menyalahkan keadaan. Alih-alih berkata ini salah si ini atau si itu, kita didorong untuk mencari potensi perbaikan dan jalan keluar yang bisa dijalankan. Begin With End in Mind (Memulai dengan tujuan akhir yang akan dituju ). Dalam memulai pekerjaan atau aktivitas, kita perlu memiliki visi jangka panjang. Kita harus memikirkan outcome apa yang hendak dituju, sehingga kita bisa memperinci langkah-langkah yang bisa dikerjakan. Dahulukan Yang Utama. Kebiasaan ini mendorong kita untuk memprioritaskan tujuan-tujuan utama daripada bereaksi terhadap urgensi.  Stephen R Covey menekankan pada pengaturan manajemen  diri dan pengatur...