Langsung ke konten utama

Omelan-Omelan Ibu

 


"Burhan, bangun, sudah jam 6 pagi, kau ini solat subuh selalu telat. Mau jadi apa kau nanti," suara ibu menyeruak menembus setengah kesadaranku. 

" Sudah kubangunkan sejak  jam setengah lima, matamu terpejam saja bagai terkena lem," sentaknya tak henti-henti.

Segera kuambil kaca mataku, kulirik layar telepon dan  memang sudah jam 6 lebih. Sinar matahari telah menerobos di sela-sela gorden lusuh kamarku.  Kuayunkan kaki gontai menembus ruang tengah yang sudah ramai oleh sibuknya anggota keluarga. Menuju kamar mandi, kuambil air penyuci.

Solat bagiku masih kurasakan layaknya beban ransel gunung yang tergantung di punggung. Berat, terkadang harus kuseret, tetapi harus kubawa. Di usiaku yang sudah menginjak 20-an, aku sering malas mengerjakanya. Subuh kulakukan  hampir saat matahari telah bersinar terlalu tajam. Itu pun karena ibuku selalu teriak-teriak. Dzuhur, kukerjakan mepet dengan Ashar, biar aku hanya wudlu sekali jalan. Maghrib kadang terlewat. Isya ogah-ogahan karena kelelahan setelah main seharian.

Masih juga jadi pertanyaan, banyak teman-temanku yang bahkan sama sekali tak menjalankan.  Bahkan kawan-kawan yang punya nama depan sangat sholeh, seperti Ahmad Lutfian, Moh. Ibrahim, mereka kulihat tak pernah mengerjakannya sama sekali. Pun solat Jumat yang hanya sekali seminggu. Pernah kutanya pada mereka. Ini karena aku memang sudah dekat dengan mereka. Dan aku menanyakannya dengan nada bercanda

"Nama kalian kan punya makna-makna yang bagus, sholeh kesannya, kenapa kalian tak pernah jumatan, hahaha, apa kalian takut air atau bagaiama?" tanyaku sambil guyon.

"Masih muda kita han, belum waktunya, mati masih lama," jawab Lutfi ringan

" Hahahahaha kamu masih ingat mati?" tanyaku.

"Hahahahahaaa,'' dia malah terbahak-bahak tidak menanggapiku serius.

Dahulu sewaktu kecil, aku memang sering ikut mengaji di surau Wak  Budi yang berada di ujung kampung. Wak Budi adalah modin di kampungku. Ikut ngaji, karena banyak teman bermain di sana. Berangkat sebelum Ashar tiba pulang setelah maghrib. Paling hanya 30 % saja aku mengajinya. Sisanya aku bermain, ngerjain teman, duduk-duduk, jajan. Wak Budi ngga pernah marah, walau anak-anak sering bandel. Dia sudah senang saat aku dan kawan-kawan berkumpul untuk kebaikan, ngaji di suraunya. Pernah suatu sore dia menyampaikan :

" Anak-anak, solat itu amalan yang pertama kali dihisab di akhirat nanti. Kalau bagus solatmu, bagus juga amalan yang lain. Kalau rusak solatmu, tak terjamin amalan yang lain," begitu katanya.  Bagi kami yang masih bocah, nasehat Wak Budi itu ngga masuk sama sekali. Aku pun tak paham maksudnya. Kami hanya mendengarkan saja karena hormat kepadanya.

Tapi memang yang tetap membuatku mengerjakan solat, adalah omelan ibu. Karena kalau tidak kulaksanakan solat, omelan itu akan tetap menggema seantero rumah. Berisik dan lama. Malah kadang-kadang kalau aku tetap tidak beranjak, sapu lidi bisa melayang.  Dahulu, sering  tutup panci  tiba-tiba terbang menghantam disertai teriakan,"Solat, atau kamu ibu pesantrenkan". 

Yah pesantren adalah ancaman  serius untuk generasiku. Nakal ancamannya adalah pesantren. Itu berarti jauh dari orang tua, jauh dari fasilitas dan hidup sendiri. Daripada begitu, aku pun memilih solat. 

Kalau  aku tertidur sebelum solat isya,  siap-siap jam 12 malam dibangunkan. Tidak dengan lembut, kadang dengan pukulan sapu, kadang dengan siraman air.  Ibu memang rajin mengabsen anak-anaknya solat. Dari 3 anaknya, mungkin aku yang paling malas. Sehingga dia akan tahu, anak mana yang belum mengerjakannya. Baginya solat adalah absen yang tak boleh terlewat begitu saja.

Aku belum nemu enaknya apa sih solat. Itu pikiranku. Kaya sesuatu yang masih aku cari titik temunya. Walau begitu, aku tetap mengerjakan walau kacau waktunya. Hingga satu waktu ada yang membuatku tahu, apa makna solat bagiku.

***

Pagi itu, aku terbangun sebelum adzan subuh. Kugosok gigi dengan pasti, hingga mulutku terasa segar kembali. Kubasuh wajahku dengan air wudlu. Kuambil baju koko yang kuncentelkan di balik pintu. Kukenakan baju itu dan aku menunggu adzan subuh mengumandang riuh. Kukerjakan 2 rakaat sebelum subuh, yang katanya berpahala dunia dan seisinya. Lalu kugerakan kaki ku ke surau Wak Budi, yang kini telah tiada. Imam di sana diganti, Sani, teman mainku yang juga anak terakhir Wak Budi. Kukerjakan dengan hikmat solat di fajar hari. Kusambung hingga suruk datang menyambangi. Baru kupulang kembali.

Teriakan-teriakan ibu yang menyuruhku solat tak kudengar lagi. Dua tahun lalu ibu telah kembali ke penciptanya. Sejak itu, aku justru rindu omelan-omelannya. Dan solat kini adalah cara menuntaskan kerinduan-kerinduan itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Getting Things Done : Seni Menyelesaikan Pekerjaan (David Allen) Part 1

TERBEBAS DARI STRESS DENGAN MENULISKAN TUGAS Tugas- tugas yang menumpuk, ide-ide yang belum terealisasi, pesan-pesan dari atasan, email yang berjubel, terkadang membuat pikiran kita terasa berat. Perasaan stress karena memikirkan, bagaimana menyelesaikannya satu persatu sering muncul. Lalu bagaimana langkah awal mengatasi ini? Salah satu cara mengatasi penuhnya pikiran kita adalah dengan menuliskan semua tugas tersebut. Dengan mengalihkan tugas tersebut ke catatan, berarti memberikan kesempatan otak untuk berhenti memikirkannya. Menulis juga dapat menurunkan kecemasan. Karena dengan ditulis kita akan memberikan kesempatan untuk diri kita melihat permasalahan secara menyeluruh dan obyektif. Dalam menuliskan semua tugas, kita bisa dibantu dengan organizer  atau aplikasi yang membantu. KATEGORISASIKAN TUGAS YANG DICATAT Setelah kita menuangkan semua ide, janji, tugas ke dalam catatan, kita perlu mengategorisasikannya. Kategorisasi  tugas dapat dilakukan berdasarkan  jenisnya...

Kesenjangan Jakarta dari Sudut Berbeda

Saat melintas di Jalan Jenderal Sudirman Jakarta,    kita akan terkagum-kagum melihat megahnya gedung-gedung    tinggi.    Betapa majunya    kota metropolitan ini, dihiasi kerlap-kerlip warna-warni.    Sejenak kemudian, kita memasuki salah satu    gedung. Lalu naik ke lantai tertinggi dan memandang Jakarta dari kaca jendela. Oh betapa terkagetnya kita, diantara    sela-sela gedung itu, ada rumah-rumah kecil, warung-warung    sederhana, parkiran  bahkan tumpukan sampah terselip.    Tampak kontras dengan gedung-gedung kelas atas. Sebuah kesenjangan? Bisa jadi. Atau ada    sudut pandang lain untuk membingkainya. Rumah rumah   kecil   yang terselip diantara    pencakar langit, sejatinya adalah entitas pendukung kehidupan kota.    Office Boy  ,  cleaning service ,  security    bahkan    karyawan yang bekerja di    ...

Prinsip 80-20 (Richard Koch)

Prinsip ini pertama kali ditemukan oleh Vilfredo Pareto di Italia. Dia menemukan bahwa di akhir 19, bahwa 80% tanah di Italia dimiliki oleh 20 % penduduk. Pola ini ternyata konsisten di berbagai bidang.  Saat ini prinsip ini dikenal dengan Hukun. Pareto. Dalam bisnis berjualan misalnya, 80 % bisa jadi berasal dari 20% pelanggan atau 20% produk tertentu. Berdasarkan prinsip tersebut, kita perlu mengidentifikasi hal-hal apa saja yang sangat berpengaruh pada produktivitas hidup kita. Oleh karena itu, dalam bukunya ini, Richard Koch menyampaikan beberapa cara bagaimana bisa kita menerapkan prinsip ini dalam kehidupan sehari-hari : Amati & catat semua aktivitas, proyek atau segala sesuatu yang memberi hasil terbesar. Hilangkan atau kurangi hal-hal yang menghabiskan waktu tanpa memberi manfaat yang signifikan. Alihkan waktu, energi dan sumber daya ke hal-hal yang membuat lebih produktif. Dalam penerapannya prinsip ini sering menemukan beberapa kesalahan : Menganggap bahwa prinsip 80-...