Langsung ke konten utama

Kesenjangan Jakarta dari Sudut Berbeda


Saat melintas di Jalan Jenderal Sudirman Jakarta,  kita akan terkagum-kagum melihat megahnya gedung-gedung  tinggi.  Betapa majunya  kota metropolitan ini, dihiasi kerlap-kerlip warna-warni.  Sejenak kemudian, kita memasuki salah satu  gedung. Lalu naik ke lantai tertinggi dan memandang Jakarta dari kaca jendela. Oh betapa terkagetnya kita, diantara  sela-sela gedung itu, ada rumah-rumah kecil, warung-warung  sederhana, parkiran  bahkan tumpukan sampah terselip.  Tampak kontras dengan gedung-gedung kelas atas. Sebuah kesenjangan? Bisa jadi. Atau ada  sudut pandang lain untuk membingkainya.

Rumah rumah  kecil yang terselip diantara  pencakar langit, sejatinya adalah entitas pendukung kehidupan kota.  Office Boy , cleaning servicesecurity  bahkan  karyawan yang bekerja di  gedung-gedung tinggi itu, memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi.  Dimana mereka tinggal setelah bekerja? Di gedung itu? Tentu tidak. Apakah mereka tinggal di apartemen mahal di  Jalan Sudirman? Ehmm rasanya tidak juga.  Jawabnya  mungkin di kos-kosan atau  di kontrakkan kalau mereka bukan asli Jakarta. Mereka akan memilih harga kos dan kontrakan yang terjangkau   nan dekat jaraknya. Dimana itu? Di rumah yang kita lihat dari puncak gedung tadi.

Kemana mereka akan makan saat waktu istirahat  tiba? Bisa jadi  makan di kantin gedung. Tapi tentu harganya tak selalu murah.  Kadang mereka memilih untuk makan di warteg yang lebih bersahabat dengan dompet. Sesekali membeli cilog atau gorengan  untuk mengganjal perut. Atau menyantap mie ayam kampung yang enak rasanya. Dimana mereka membeli itu semua? Di warung-warung yang anda lihat dari ketinggian tadi. 

Tentu kita pernah berkunjung ke  mall-mall besar di Jakarta. Apakah karyawan-karyawan yang bekerja di Mall  menyantap  makanan restoran yang ada di sana. Bisa jadi sesekali, tetapi tidak setiap hari. Lalu kemana  mereka mencari makan siang? Coba anda berjalan di sekeliling  Mall, anda akan menemukan warung-warung kecil tempat para karyawan mall jajan.

Ketika  tarif parkir gedung-gedung  tinggi itu begitu mencekik, ini membuka  peluang usaha bagi  orang-orang di sekitarnya. Muncullah parkiran berharga miring di sekitar bangunan-bangunan megah itu. Cukup sewa tanah  dan bayar penjaga, jadilah sektor usaha baru. Hmmm, mungkin murahnya bisa lebih rendah  3 kali lipat.  Uang parkir bisa dihemat, pengeluaran  bisa dijaga ketat. Dimana letak parkiran-parkiran itu? Kita bisa melihatnya dari atas gedung tadi jika jeli.

Kita memang harus melihat  kesenjangan di Jakarta ini dengan sudut  berbeda.  Sektor usaha riil  dan UMKM di Jakarta yang berada di sekitar gedung tinggi, pabrik, atau tempat-tempat yang berpeluang mendatangkan banyak orang harusnya bisa  berkembang maju. Kenapa? Karena banyak orang, artinya banyak kebutuhan yang harus disediakan.  Orang yang mengaku  sebagai “penduduk asli” sebaiknya tidak perlu khawatir  dengan masuknya para migran. Tidak perlu merasa tersaingi  karena tidak bisa diterima kerja di gedung tinggi atau pabrik-pabrik. Tinggal memutar  akal, untuk mencari peluang usaha dari kebutuhan para pekerja dan migran yang harus dipenuhi.

Pengalaman saya dahulu saat iseng bersama kawan kos di Jakarta Utara membuka usaha laundry Kiloan di sekitar pabrik mobil, nyatanya cukup berhasil.  Di bulan ketujuh kami sudah harus menangani 1,3 ton baju, yang sebagian pelanggan kami adalah karyawan pabrik. Bulan-bulan berikutnya customer kami terus bertambah, hingga kami harus membuka cabang-cabang baru . laundry kami menjadi trend  dan memicu orang lain membuka usaha yang sama. Bahkan pemilik kontrakan , mengusir kami  dan akhirnya kami tahu bahwa mereka juga ingin membuka  laundry serupa. 

Atau saya pernah berjumpa  orang yang hanya berjualan teh botol di Pasar Tanah Abang. Dia mengaku bisa menjual   6 kardus sehari (masing-masing kardus  berisi 24 buah) atau sekitar 144 botol sehari. Dia mengantongi  untung 2000 rupiah perbotol artinya dia membawa untung 288 ribu sehari.  Sebulan dia bisa mengantongi 7-8 juta.  Dia untung karena bisa membaca situasi. Orang berkeliling dan belanja pasti haus, ditangkap peluang itu dan dikonversikan menjadi keuntungan.

Bukan soal laundry  dan teh botol yang akan saya tekankan dalam tulisan ini. Tetapi kehadiran  gedung-gedung tinggi, pasar-pasar  dan pabrik-pabrik besar harus dipandang sebagai peluang . Kesenjangan mungkin hanya tampak fisik tapi kesempatan bagi penduduk sekitar  terbuka lebar. Bayangkan saja, jika pabrik  atau gedung yang berpenghuni lebih dari ribuan orang itu pindah ke daerah. Tentu masyarakat akan terguncang. Berapa banyak warteg yang gulung tikar, kos-kosan yang hilang penghuninya,  tukang cukur rambut yang  menganggur, penjual pulsa yang putus asa  dan banyak lagi.  Hal ini bisa jadi memicu tingginya angka penurunan pendapatan bahkan meningkatnya kriminalitas.

Dengan jumlah penduduk yang lebih dari 11 juta orang , Jakarta sebenarnya adalah ceruk pasar yang luar biasa.   Apalagi untuk kelas menengah di Jakarta yang  asumsi saya sama besarnya dengan kelas menengah yang ada di Indonesia sekitar17.12 % . Jika kelas menengah  berpenghasilan 3-6 Juta, menghabiskan penghasilannya sebesar  28 % untuk makanan, 9 % untuk pakaian dan 12 % untuk Kebutuhan  Rumah Tangga lainnya.  Angka  ini sebenarnya memudahkan kita untuk menjelaskan kepada para pelaku ekonomi kecil dan menengah sektor mana yang berpeluang cepat menghasilkan. Apalagi saat ini semua bisa terbantu dengan kehadiran layanan daring alias ojol. Pembeli tak  dipengaruhi faktor radius dan jarak. 

Semoga semua entitas yang ada di Kota Jakarta  bisa saling menguatkan. Membangun simbiosis mutualisme dengan tetap memperhatikan peraturan dan kepantasan. Masyarakat kota dengan berbagai dinamikanya  pasti akan menemukan titik kesetimbangannya.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Omelan-Omelan Ibu

  "Burhan, bangun, sudah jam 6 pagi, kau ini solat subuh selalu telat. Mau jadi apa kau nanti," suara ibu menyeruak menembus setengah kesadaranku.  " Sudah kubangunkan sejak  jam setengah lima, matamu terpejam saja bagai terkena lem," sentaknya tak henti-henti. Segera kuambil kaca mataku, kulirik layar telepon dan  memang sudah jam 6 lebih. Sinar matahari telah menerobos di sela-sela gorden lusuh kamarku.  Kuayunkan kaki gontai menembus ruang tengah yang sudah ramai oleh sibuknya anggota keluarga. Menuju kamar mandi, kuambil air penyuci. Solat bagiku masih kurasakan layaknya beban ransel gunung yang tergantung di punggung. Berat, terkadang harus kuseret, tetapi harus kubawa. Di usiaku yang sudah menginjak 20-an, aku sering malas mengerjakanya. Subuh kulakukan  hampir saat matahari telah bersinar terlalu tajam. Itu pun karena ibuku selalu teriak-teriak. Dzuhur, kukerjakan mepet dengan Ashar, biar aku hanya wudlu sekali jalan. Maghrib kadang terlewat. Isya og...

Muhammad A Kiong

Jika ditanya soal tempat yang paling nyaman selain kamarku, jawabnya adalah masjid kampus UGM. Walaupun aku sendiri bukan mahasiswa universitas itu. Terkadang bisa berjam-jam aku duduk di sana, membaca buku atau diskusi bersama kawan. Hawanya begitu menyejukkan. Tempatnya pun bersih dan indah. Hingga suatu hari aku bertemu dengan laki-laki aneh. Seseorang yang sangat mengagumkan sekaligus membingunganku. Saat itu, aku baru saja solat isya di sana. Usai berdoa, seperti biasa aku duduk di teras masjid. Menatap ke dalam lapangan luas berpohon palem. Untuk sekadar menghirup udara segar. Malam itu cukup cerah, bulan tak malu menampakkan diri. Padahal sore tadi, Jogja sempat diguyur hujan deras. “Assalamualaikum,” sapa laki-laki itu “Walaikum salam,” jawabku singkat. “Lagi menunggu siapa, mas?” “Wah, hanya cari udara segar di sini,” “Iya di sini memang menyejukkan, mas. Sudah lama saya jadi jamaah sini,” jawabnya. Kuperhatikan lebih dekat laki-laki itu. Ah...matanya sipit, seperti oran...

The 7 Habits of Highly Effective People (Stephen R Covey)

Membaca buku ini kita akan dibawa pada 7 Kebiasaan yang dapat meningkatkan produktivitas kita : Menjadi Proaktif, Bukan Reaktif.  Kebiasaan ini mendorong kita untuk selalu bertindak proporsional saat dihadapkan dengan berbagai tantangan. Saat menghadapi tantangan kita diminta untuk berfokus pada kondisi aktual dan difokuskan untuk mencari solusi, bukan menyalahkan keadaan. Alih-alih berkata ini salah si ini atau si itu, kita didorong untuk mencari potensi perbaikan dan jalan keluar yang bisa dijalankan. Begin With End in Mind (Memulai dengan tujuan akhir yang akan dituju ). Dalam memulai pekerjaan atau aktivitas, kita perlu memiliki visi jangka panjang. Kita harus memikirkan outcome apa yang hendak dituju, sehingga kita bisa memperinci langkah-langkah yang bisa dikerjakan. Dahulukan Yang Utama. Kebiasaan ini mendorong kita untuk memprioritaskan tujuan-tujuan utama daripada bereaksi terhadap urgensi.  Stephen R Covey menekankan pada pengaturan manajemen  diri dan pengatur...