Langsung ke konten utama

Sepak Bola Indonesia, Haruskah Belajar dari Kapten Tsubasa?

Beberapa waktu lalu tim sepak bola senior Indonesia gagal melaju ke Piala Dunia, setelah hanya menduduki posisi ketiga di  Kualifikasi putaran keempat Piala Dunia. Meski begitu, timnas U-17 justru berhasil lolos ke putaran final Piala Dunia di Qatar. Namun harus terhenti di fase grup, dengan hanya mengantongi 3 poin setelah mengalahkan Honduras. Harapan masyarakat Indonesia, agar timnya melaju ke piala dunia sangat besar. Sehingga ketika timnas senior gagal lolos piala dunia, kekecewaan pun dituangkan dalam berbagai cara di sosial media.

Sepak bola merupakan olah raga paling populer di Indonesia. Sebuah portal data statistik ternama, Country Cassette bahkan merilis data, bahwa penggemar sepak bola di Indonesia menduduki nomor tiga terbesar di dunia, yakni 165,48 juta penggemar. Peringkat Indonesia, hanya berada di bawah Brasil dan China. Hal ini membuktikan bahwa sekitar 57 % penduduk Indonesia adalah penggemar sepak bola. Namun jumlah penggemar itu tak mampu membuat timnas melaju ke piala dunia.

Barangkali kita perlu belajar dari negara Samurai Biru, Jepang. Sewaktu kecil, sebagian dari kita menonton film kartun anime berjudul Kapten Tsubasa. Film ini menceritakan perjuangan para pemain sepak bola Jepang meniti karir dan akhirnya bisa lolos ke piala dunia. Film ini pertama kali diproduksi tahun 1985, dimana waktu itu Jepang memang belum lolos piala dunia. Namun harapan dan mimpi itu seolah terus divisualisasi melalui film dengan harapan kelak generasi muda mereka bisa lolos ke piala dunia.

Akhirnya 18  tahun kemudian, atau tepatnya tahun 1998 Jepang lolos piala dunia di Perancis untuk pertama kalinya. Dan setelah itu mereka tidak pernah absen di kejuaraan sepak bola dunia ini. Tercatat sudah 7 kali mereka tampil. Mereka memang belum pernah juara di piala dunia, namun sudah 4 kali lolos ke 16 besar. Terlepas dari Film Kapten Tsubasa, Jepang sebenarnya begitu serius menangani sepak bola.

J-League atau liga profesional sepak bola Jepang mulai  mulai terbentuk tahun 1993. Klub-Klub ternama seperti Gamba Osaka, Yokohama F. Marinos atau Jubilo Iwata sering kita dengar kiprahnya. Namun dibalik kemegahan liga profesional Jepang, ternyata terbangun dari kompetisi dan turnamen antar sekolah.  Jadi keprofesionalan pemain Jepang yang saat ini sering kita lihat di liga-liga Eropa dibangun saat mereka masih di sekolah. Nama legendaris seperti Keisuke Honda juga lahir dari kompetisi antar sekolah. Cerita kompetisi dan turnamen antar sekolah ini juga digambarkan dalam film anime Kapten Tsubasa. Dimana tokoh utama kartun ini, Tsubasa Ozora, meniti karir di klub sekolah bernama Nankatsu hingga dia berhasil menembus tim nasional  Jepang.

Tak hanya sekolah, Liga Universitas juga menonjol membentuk kualitas sepak bola Jepang. Bahkan di piala dunia tahun 2022, sebagian pemain timnas Jepang merupakan jebolan Liga Universitas. Sebut saja nama-nama seperti Kyogu Furuhashi, Kaoru Mitoma atau Junya ito. Ketiganya saat ini semua bermain di Liga Eropa. Kisah menarik yang juga sering diangkat media adalah  tentang Kaoru Mitoma itoma. Dia menunda karier profesionalnya untuk menyelesaikan studi di Universitas Tsukuba, Jepang, karena merasa belum siap secara profesional.  Bahkan dia menulis tesis mengenai cara driblling  bola yang efektif bagi pemain sayap.

Selain pembinaan kelompok umur yang baik, Jepang  juga mengaitkan olah raga dengan science. Penggunaan data sport science sering memberikan analisis mendalam mengenai kondisi pemain dan jalannya pertandingan. Data sport science ini diterapkan ke beberapa hal, seperti : analisis pertandingan, GPS tracking (kecepatan, jarak tempuh dan arah bola) bahkan nutrisi atlet. Di samping itu kualifikasi kepelatihan profesional Jepang juga ketat. Bahkan di setiap level umur, Jepang memiliki lisensi masing-masing. Seperti lisensi JFA C-License untuk melatih anak-anak atau  JFA S-License untuk melatih tim profesional.

Kapten Tsubasa bukanlah sebuah film semata, tetapi gambaran bagaimana negara Jepang serius membangun sepakbola. Tidak hanya secara fisik langsung, tetapi terstruktur dan sistematis. Bahkan mimpi ke piala dunia  itu terus ditanamkan dan diwujudkan melalui  tayangan kartun yang disiarkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Getting Things Done : Seni Menyelesaikan Pekerjaan (David Allen) Part 1

TERBEBAS DARI STRESS DENGAN MENULISKAN TUGAS Tugas- tugas yang menumpuk, ide-ide yang belum terealisasi, pesan-pesan dari atasan, email yang berjubel, terkadang membuat pikiran kita terasa berat. Perasaan stress karena memikirkan, bagaimana menyelesaikannya satu persatu sering muncul. Lalu bagaimana langkah awal mengatasi ini? Salah satu cara mengatasi penuhnya pikiran kita adalah dengan menuliskan semua tugas tersebut. Dengan mengalihkan tugas tersebut ke catatan, berarti memberikan kesempatan otak untuk berhenti memikirkannya. Menulis juga dapat menurunkan kecemasan. Karena dengan ditulis kita akan memberikan kesempatan untuk diri kita melihat permasalahan secara menyeluruh dan obyektif. Dalam menuliskan semua tugas, kita bisa dibantu dengan organizer  atau aplikasi yang membantu. KATEGORISASIKAN TUGAS YANG DICATAT Setelah kita menuangkan semua ide, janji, tugas ke dalam catatan, kita perlu mengategorisasikannya. Kategorisasi  tugas dapat dilakukan berdasarkan  jenisnya...

Omelan-Omelan Ibu

  "Burhan, bangun, sudah jam 6 pagi, kau ini solat subuh selalu telat. Mau jadi apa kau nanti," suara ibu menyeruak menembus setengah kesadaranku.  " Sudah kubangunkan sejak  jam setengah lima, matamu terpejam saja bagai terkena lem," sentaknya tak henti-henti. Segera kuambil kaca mataku, kulirik layar telepon dan  memang sudah jam 6 lebih. Sinar matahari telah menerobos di sela-sela gorden lusuh kamarku.  Kuayunkan kaki gontai menembus ruang tengah yang sudah ramai oleh sibuknya anggota keluarga. Menuju kamar mandi, kuambil air penyuci. Solat bagiku masih kurasakan layaknya beban ransel gunung yang tergantung di punggung. Berat, terkadang harus kuseret, tetapi harus kubawa. Di usiaku yang sudah menginjak 20-an, aku sering malas mengerjakanya. Subuh kulakukan  hampir saat matahari telah bersinar terlalu tajam. Itu pun karena ibuku selalu teriak-teriak. Dzuhur, kukerjakan mepet dengan Ashar, biar aku hanya wudlu sekali jalan. Maghrib kadang terlewat. Isya og...

Kesenjangan Jakarta dari Sudut Berbeda

Saat melintas di Jalan Jenderal Sudirman Jakarta,    kita akan terkagum-kagum melihat megahnya gedung-gedung    tinggi.    Betapa majunya    kota metropolitan ini, dihiasi kerlap-kerlip warna-warni.    Sejenak kemudian, kita memasuki salah satu    gedung. Lalu naik ke lantai tertinggi dan memandang Jakarta dari kaca jendela. Oh betapa terkagetnya kita, diantara    sela-sela gedung itu, ada rumah-rumah kecil, warung-warung    sederhana, parkiran  bahkan tumpukan sampah terselip.    Tampak kontras dengan gedung-gedung kelas atas. Sebuah kesenjangan? Bisa jadi. Atau ada    sudut pandang lain untuk membingkainya. Rumah rumah   kecil   yang terselip diantara    pencakar langit, sejatinya adalah entitas pendukung kehidupan kota.    Office Boy  ,  cleaning service ,  security    bahkan    karyawan yang bekerja di    ...