1. Loss
Aversion (Aversi terhadap Kerugian)
Rasa kehilangan lebih sakit daripada rasa senang saat mendapatkan hal yang sama.
Contoh:
Kamu menemukan uang Rp100.000 di jalan — rasanya
senang banget.
Tapi besoknya kamu kehilangan Rp100.000 — rasanya jauh lebih menyakitkan,
meskipun secara total kamu “impas.” Ini menunjukkan bahwa kerugian
terasa dua kali lebih berat daripada keuntungan yang sama nilainya.
2. Reference
Dependence (Titik Acuan)
Orang menilai
untung-rugi relatif terhadap keadaan awal atau ekspektasi mereka.
Contoh:
Karyawan A dan B sama-sama mendapat gaji Rp10 juta.Tapi A tadinya berharap Rp9 juta, sedangkan B berharap Rp12 juta. A merasa senang, B merasa kecewa — padahal nilainya sama. Titik acuan (harapan) menentukan perasaan “untung” atau “rugi.”
3. Diminishing
Sensitivity (Sensitivitas Menurun)
Semakin besar
nilai keuntungan atau kerugian, semakin kecil perubahan emosional yang
dirasakan.
Contoh:
Mendapat diskon Rp50.000 saat belanja Rp200.000 terasa besar,
tapi diskon yang sama saat belanja Rp5 juta terasa kecil.
Reaksi kita menurun meskipun nominalnya sama.
4. Probability
Weighting (Penilaian terhadap Kemungkinan)
Orang sering
melebih-lebihkan peluang kecil dan meremehkan peluang besar.
Contoh:
Beli lotre meskipun
tahu peluang menangnya sangat kecil.
Karena otak kita melebih-lebihkan kemungkinan kecil untuk
“menang besar.”
Sebaliknya, banyak orang tidak beli asuransi banjir, padahal kemungkinan
terjadinya cukup besar — karena mereka meremehkan risiko nyata.
5. Framing
Effect (Efek Bingkai)
Cara informasi
disajikan memengaruhi keputusan.
Contoh:
- “Tingkat
keberhasilan operasi ini 90%.” → Pasien mau operasi.
- “Risiko
kegagalannya 10%.” → Pasien jadi ragu.
Padahal datanya sama, hanya cara penyampaiannya berbeda.
Komentar
Posting Komentar