Langsung ke konten utama

Mengenal Teori Prospek dalam Pengambilan Keputusan

Dalam pengambilan keputusan, kita mengenal apa yang disebut dengan teori prospek. Teori prospek adalah model psikologi yang dikembangkan oleh Daniel Kahneman dan Amos Tversky. Teori ini menjelaskan  bagaimana orang membuat pilihan di bawah ketidakpastian, terutama mempertimbangkan keuntungan dan kerugian relatif. Teori ini menunjukkan bahwa orang cenderung menghindari risiko ketika dihadapkan pada keuntungan. Tetapi memilih risiko ketika dihadapkan pada kerugian. Sebuah fenomena  yang disebut dengan keengganan terhadap risiko.

1. Loss Aversion (Aversi terhadap Kerugian)

Rasa kehilangan lebih sakit daripada rasa senang saat mendapatkan hal yang sama.

Contoh:

Kamu menemukan uang Rp100.000 di jalan — rasanya senang banget.
Tapi besoknya kamu kehilangan Rp100.000 — rasanya jauh lebih menyakitkan, meskipun secara total kamu “impas.” Ini menunjukkan bahwa kerugian terasa dua kali lebih berat daripada keuntungan yang sama nilainya.

2. Reference Dependence (Titik Acuan)

Orang menilai untung-rugi relatif terhadap keadaan awal atau ekspektasi mereka.

 Contoh:

Karyawan A dan B sama-sama mendapat gaji Rp10 juta.Tapi A tadinya berharap Rp9 juta, sedangkan B berharap Rp12 juta. A merasa senang, B merasa kecewa — padahal nilainya sama. Titik acuan (harapan) menentukan perasaan “untung” atau “rugi.”

3. Diminishing Sensitivity (Sensitivitas Menurun)

Semakin besar nilai keuntungan atau kerugian, semakin kecil perubahan emosional yang dirasakan.

Contoh:

Mendapat diskon Rp50.000 saat belanja Rp200.000 terasa besar,
tapi diskon yang sama saat belanja Rp5 juta terasa kecil.
Reaksi kita menurun meskipun nominalnya sama.

4. Probability Weighting (Penilaian terhadap Kemungkinan)

Orang sering melebih-lebihkan peluang kecil dan meremehkan peluang besar.

Contoh:

Beli lotre meskipun tahu peluang menangnya sangat kecil.
Karena otak kita melebih-lebihkan kemungkinan kecil untuk “menang besar.”
Sebaliknya, banyak orang tidak beli asuransi banjir, padahal kemungkinan terjadinya cukup besar — karena mereka meremehkan risiko nyata.

5. Framing Effect (Efek Bingkai)

Cara informasi disajikan memengaruhi keputusan.

Contoh:


  • “Tingkat keberhasilan operasi ini 90%.” → Pasien mau operasi.
  • “Risiko kegagalannya 10%.” → Pasien jadi ragu.
    Padahal datanya sama, hanya cara penyampaiannya berbeda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Getting Things Done : Seni Menyelesaikan Pekerjaan (David Allen) Part 1

TERBEBAS DARI STRESS DENGAN MENULISKAN TUGAS Tugas- tugas yang menumpuk, ide-ide yang belum terealisasi, pesan-pesan dari atasan, email yang berjubel, terkadang membuat pikiran kita terasa berat. Perasaan stress karena memikirkan, bagaimana menyelesaikannya satu persatu sering muncul. Lalu bagaimana langkah awal mengatasi ini? Salah satu cara mengatasi penuhnya pikiran kita adalah dengan menuliskan semua tugas tersebut. Dengan mengalihkan tugas tersebut ke catatan, berarti memberikan kesempatan otak untuk berhenti memikirkannya. Menulis juga dapat menurunkan kecemasan. Karena dengan ditulis kita akan memberikan kesempatan untuk diri kita melihat permasalahan secara menyeluruh dan obyektif. Dalam menuliskan semua tugas, kita bisa dibantu dengan organizer  atau aplikasi yang membantu. KATEGORISASIKAN TUGAS YANG DICATAT Setelah kita menuangkan semua ide, janji, tugas ke dalam catatan, kita perlu mengategorisasikannya. Kategorisasi  tugas dapat dilakukan berdasarkan  jenisnya...

Kesenjangan Jakarta dari Sudut Berbeda

Saat melintas di Jalan Jenderal Sudirman Jakarta,    kita akan terkagum-kagum melihat megahnya gedung-gedung    tinggi.    Betapa majunya    kota metropolitan ini, dihiasi kerlap-kerlip warna-warni.    Sejenak kemudian, kita memasuki salah satu    gedung. Lalu naik ke lantai tertinggi dan memandang Jakarta dari kaca jendela. Oh betapa terkagetnya kita, diantara    sela-sela gedung itu, ada rumah-rumah kecil, warung-warung    sederhana, parkiran  bahkan tumpukan sampah terselip.    Tampak kontras dengan gedung-gedung kelas atas. Sebuah kesenjangan? Bisa jadi. Atau ada    sudut pandang lain untuk membingkainya. Rumah rumah   kecil   yang terselip diantara    pencakar langit, sejatinya adalah entitas pendukung kehidupan kota.    Office Boy  ,  cleaning service ,  security    bahkan    karyawan yang bekerja di    ...

The 7 Habits of Highly Effective People (Stephen R Covey)

Membaca buku ini kita akan dibawa pada 7 Kebiasaan yang dapat meningkatkan produktivitas kita : Menjadi Proaktif, Bukan Reaktif.  Kebiasaan ini mendorong kita untuk selalu bertindak proporsional saat dihadapkan dengan berbagai tantangan. Saat menghadapi tantangan kita diminta untuk berfokus pada kondisi aktual dan difokuskan untuk mencari solusi, bukan menyalahkan keadaan. Alih-alih berkata ini salah si ini atau si itu, kita didorong untuk mencari potensi perbaikan dan jalan keluar yang bisa dijalankan. Begin With End in Mind (Memulai dengan tujuan akhir yang akan dituju ). Dalam memulai pekerjaan atau aktivitas, kita perlu memiliki visi jangka panjang. Kita harus memikirkan outcome apa yang hendak dituju, sehingga kita bisa memperinci langkah-langkah yang bisa dikerjakan. Dahulukan Yang Utama. Kebiasaan ini mendorong kita untuk memprioritaskan tujuan-tujuan utama daripada bereaksi terhadap urgensi.  Stephen R Covey menekankan pada pengaturan manajemen  diri dan pengatur...