Otak manusia punya 2 cara kerja dalam berpikir
- Mode Berpikir Cepat (Sistem 1) : Mode ini bersifat otomatis, instingtif. Mode ini bekerja tanpa disadari dan tidak membutuhkan banyak usaha kognitif. Namun demikian karena bersifat cepat, mode ini rentan terhadap bias.
- Mode Berpikir Lambat (Sistem 2) : Mode ini bersifat penuh pertimbangan, membutuhkan data-data untuk memutuskan sesuatu. Memerlukan usaha dan perhatian yang lebih besar.
Sebenarnya, keduanya tidak hidup terpisah. Sebagian besar waktu, mode berpikir cepat mengendalikan, namun sistem berpikir lambat akan ikut campur jika diperlukan.
Contoh sederhana bisa dilihat saat kita berbelanja di supermarket. Sistem 1 melihat ada diskon barang senilai 50%, tanpa kita memeriksanya dulu. Namun sistem 2 baru akan terlibat ketika kita berhenti sejenak kemudian membandingkan harga awal dan menyadari bahwa harga diskon tersebut sebenarnya tidak terlalu menguntungkan.
Dari hal ini kita bisa bisa memahami bahwa sistem 1 terkadang memproses informasi dalam hitungan detik saja, sehingga rawan bias. Sehingga dibutuhkan sistem 2 yang bertugas menekan rem ketika pikiran kita melaju terlalu cepat. Sistem 2 muncul untuk memeriksa ulang keputusan spontan yang dihasilkan oleh sistem 1. Sistem 2 memang memiliki kemampuan untuk menganalisa masalah secara mendalam. Ia bisa memecah masalah menjadi bagian bagian kecil dan membandingkan pilihan.
Namun sistem 2 bukan tanpa kelemahan. Ia rentan gagal ketika kita sedang lelah, tertekan waktu dan terganggu hal lainnya. Dalam kondisi-kondisi demikian, otak lebih memilih jalan pintas yang cepat. Ada penelitian yang menunjukkan bahwa saat orang mengantuk dan lapar sering salah mengambil keputusan.
Menggunakan sistem 2 berarti menerima bahwa berpikir itu melelahkan. Kita bisa menggunakannya ketika memang dibutuhkan dan di momen-momen penting. Seperti saat memutuskan keputusan yang menyangkut masa depan, melibatkan risiko besar dan kondisi kondisi yang penuh ketidakpastian. Dengan menggunakan sistem 2 kita bisa memberikan ruang kepada otak untuk memilih cara yang benar.
BIAS-BIAS YANG MERUBAH PENILAIAN
- Bias Kognitif. Bias ini adalah jebakan halus yang mempengaruhi cara berpikir tanpa kita sadari. Salah satunya adalah heuristik ketersediaan. Otak cenderung menilai kemungkinan suatu peristiwa berdasarkan seberapa mudah kita mengingat contohnya. Jika berita tentang kecelakaan sedang ramai, banyak orang akan merasa mengguakan pesawat terbang lebih berbahaya, secara statistik menggunakan pesawat lebih aman.
- Bias Konfirmasi. Bias ini membuat kita mencari, mengingat dan mempercayai informasi yang mendukung keyakinan yang sudah kita punyai dan mengabaikan hal yang bertantangan. Misalnya seseorang percaya kopi buruk untuk kesehatan, dia akan lebih mudah menerima artikel yang menegaskan hal tersebut. Bias seperti ini membuat kita jarang menguji keyakinan kita sendiri. Akibatnya kita bisa terjebak dalam lingkaran pandangan sempit.
- Bias Efek Jangkar. Bias ini yang menyebabkan seseorang terlalu bergantung pada informasi pertama saat membuat penilaian dan keputusan. Hal ini menjadi titik acuan yang mempengaruhi penyesuaian berikutnya, sehingga penilaian akhir cenderung tidak akurat. Contoh : Jika seseorang ditanya apakah Napoleon lebih tinggi dari 6 kaki? Kemudian orang ditanya perkiraan tinggi Napoleon, mereka mungkin akan memberi jawaban lebih tinggi dari 6 kaki.
Mengenali 3 bias ini adalah langkah awal untuk mengurangi kesalahan pengambilan keputusan.
Komentar
Posting Komentar