Langsung ke konten utama

Think Fast Think Slow (Daniel Kahneman) Part 1

 Otak manusia punya 2 cara kerja dalam berpikir

  • Mode Berpikir Cepat (Sistem 1) : Mode ini bersifat otomatis, instingtif. Mode ini bekerja tanpa disadari dan tidak membutuhkan banyak usaha kognitif. Namun demikian karena bersifat cepat, mode ini rentan terhadap bias.
  • Mode Berpikir Lambat (Sistem 2) : Mode ini bersifat penuh pertimbangan, membutuhkan data-data untuk memutuskan sesuatu. Memerlukan usaha dan perhatian yang lebih besar.
Sebenarnya, keduanya tidak hidup terpisah. Sebagian besar waktu, mode berpikir cepat mengendalikan, namun sistem berpikir lambat akan ikut campur jika diperlukan.

Contoh sederhana bisa dilihat  saat kita berbelanja di supermarket. Sistem 1 melihat ada diskon barang senilai 50%, tanpa kita memeriksanya dulu. Namun sistem 2 baru akan terlibat ketika kita berhenti sejenak kemudian membandingkan harga awal dan menyadari bahwa harga diskon tersebut sebenarnya tidak terlalu menguntungkan.

Dari hal ini kita bisa bisa memahami bahwa sistem 1 terkadang memproses informasi dalam hitungan detik saja, sehingga rawan bias. Sehingga dibutuhkan sistem 2 yang bertugas menekan rem ketika pikiran kita melaju terlalu cepat. Sistem 2 muncul untuk memeriksa ulang keputusan spontan yang dihasilkan oleh sistem 1. Sistem  2 memang memiliki kemampuan untuk menganalisa masalah secara mendalam. Ia bisa memecah masalah menjadi bagian bagian kecil  dan membandingkan pilihan.

Namun sistem 2 bukan tanpa kelemahan. Ia rentan gagal ketika kita sedang lelah, tertekan waktu dan terganggu hal lainnya. Dalam kondisi-kondisi demikian, otak lebih memilih jalan pintas yang cepat. Ada penelitian yang menunjukkan bahwa saat orang mengantuk dan lapar sering salah mengambil keputusan.

Menggunakan sistem 2 berarti menerima bahwa berpikir itu melelahkan. Kita bisa menggunakannya ketika memang dibutuhkan dan di momen-momen penting. Seperti saat memutuskan keputusan yang menyangkut masa depan, melibatkan risiko besar dan kondisi kondisi yang penuh ketidakpastian. Dengan menggunakan sistem 2 kita bisa memberikan ruang kepada otak untuk memilih cara yang benar.

BIAS-BIAS YANG MERUBAH  PENILAIAN
  • Bias Kognitif. Bias ini adalah jebakan halus yang mempengaruhi cara berpikir  tanpa kita sadari. Salah satunya adalah heuristik ketersediaan. Otak cenderung menilai kemungkinan  suatu peristiwa berdasarkan seberapa mudah  kita mengingat contohnya. Jika berita tentang kecelakaan sedang ramai, banyak orang akan merasa mengguakan pesawat terbang lebih berbahaya, secara statistik menggunakan pesawat lebih aman.
  • Bias Konfirmasi.  Bias ini  membuat kita mencari, mengingat dan mempercayai informasi yang mendukung keyakinan yang sudah kita punyai dan mengabaikan hal yang bertantangan. Misalnya seseorang percaya kopi buruk untuk kesehatan, dia  akan lebih mudah menerima artikel yang menegaskan hal tersebut. Bias seperti ini  membuat kita jarang menguji keyakinan kita sendiri. Akibatnya  kita bisa terjebak dalam lingkaran pandangan sempit.
  • Bias Efek Jangkar. Bias ini yang menyebabkan seseorang terlalu bergantung pada informasi pertama saat membuat penilaian  dan keputusan. Hal ini menjadi titik acuan yang mempengaruhi penyesuaian berikutnya, sehingga penilaian akhir cenderung tidak akurat.  Contoh : Jika seseorang ditanya apakah Napoleon lebih tinggi dari 6 kaki? Kemudian orang ditanya perkiraan tinggi Napoleon, mereka mungkin akan memberi jawaban lebih tinggi dari  6 kaki.
Mengenali 3 bias ini adalah langkah awal  untuk mengurangi kesalahan pengambilan keputusan.











Komentar

Postingan populer dari blog ini

Omelan-Omelan Ibu

  "Burhan, bangun, sudah jam 6 pagi, kau ini solat subuh selalu telat. Mau jadi apa kau nanti," suara ibu menyeruak menembus setengah kesadaranku.  " Sudah kubangunkan sejak  jam setengah lima, matamu terpejam saja bagai terkena lem," sentaknya tak henti-henti. Segera kuambil kaca mataku, kulirik layar telepon dan  memang sudah jam 6 lebih. Sinar matahari telah menerobos di sela-sela gorden lusuh kamarku.  Kuayunkan kaki gontai menembus ruang tengah yang sudah ramai oleh sibuknya anggota keluarga. Menuju kamar mandi, kuambil air penyuci. Solat bagiku masih kurasakan layaknya beban ransel gunung yang tergantung di punggung. Berat, terkadang harus kuseret, tetapi harus kubawa. Di usiaku yang sudah menginjak 20-an, aku sering malas mengerjakanya. Subuh kulakukan  hampir saat matahari telah bersinar terlalu tajam. Itu pun karena ibuku selalu teriak-teriak. Dzuhur, kukerjakan mepet dengan Ashar, biar aku hanya wudlu sekali jalan. Maghrib kadang terlewat. Isya og...

Muhammad A Kiong

Jika ditanya soal tempat yang paling nyaman selain kamarku, jawabnya adalah masjid kampus UGM. Walaupun aku sendiri bukan mahasiswa universitas itu. Terkadang bisa berjam-jam aku duduk di sana, membaca buku atau diskusi bersama kawan. Hawanya begitu menyejukkan. Tempatnya pun bersih dan indah. Hingga suatu hari aku bertemu dengan laki-laki aneh. Seseorang yang sangat mengagumkan sekaligus membingunganku. Saat itu, aku baru saja solat isya di sana. Usai berdoa, seperti biasa aku duduk di teras masjid. Menatap ke dalam lapangan luas berpohon palem. Untuk sekadar menghirup udara segar. Malam itu cukup cerah, bulan tak malu menampakkan diri. Padahal sore tadi, Jogja sempat diguyur hujan deras. “Assalamualaikum,” sapa laki-laki itu “Walaikum salam,” jawabku singkat. “Lagi menunggu siapa, mas?” “Wah, hanya cari udara segar di sini,” “Iya di sini memang menyejukkan, mas. Sudah lama saya jadi jamaah sini,” jawabnya. Kuperhatikan lebih dekat laki-laki itu. Ah...matanya sipit, seperti oran...

The 7 Habits of Highly Effective People (Stephen R Covey)

Membaca buku ini kita akan dibawa pada 7 Kebiasaan yang dapat meningkatkan produktivitas kita : Menjadi Proaktif, Bukan Reaktif.  Kebiasaan ini mendorong kita untuk selalu bertindak proporsional saat dihadapkan dengan berbagai tantangan. Saat menghadapi tantangan kita diminta untuk berfokus pada kondisi aktual dan difokuskan untuk mencari solusi, bukan menyalahkan keadaan. Alih-alih berkata ini salah si ini atau si itu, kita didorong untuk mencari potensi perbaikan dan jalan keluar yang bisa dijalankan. Begin With End in Mind (Memulai dengan tujuan akhir yang akan dituju ). Dalam memulai pekerjaan atau aktivitas, kita perlu memiliki visi jangka panjang. Kita harus memikirkan outcome apa yang hendak dituju, sehingga kita bisa memperinci langkah-langkah yang bisa dikerjakan. Dahulukan Yang Utama. Kebiasaan ini mendorong kita untuk memprioritaskan tujuan-tujuan utama daripada bereaksi terhadap urgensi.  Stephen R Covey menekankan pada pengaturan manajemen  diri dan pengatur...