Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2021

Mimpi Penjual Bunga

Setelah kubuka toko, aku ingat pesanan Pak Surya. Katanya dia ingin menyiapkan bunga yang istimewa buat istrinya di ulang tahun pernikahan. Dia minta yang lengkap bunganya. Dia juga  minta kalau bisa ada bunga yang wangi. Karena katanya sang istri memang suka yang wangi. Rangkaian bunga itu akan diambilnya selepas tengah hari nanti. Biar kusiapkan saja bunga yang istimewa. Pak Surya adalah langgananku selama 3 tahun ini. Hampir setiap ulang tahun istrinya dan ulang tahun pernikahannya memesan bunga di tokoku. Pernah malam-malam sekali, dia mengirim pesan karena hampir kelupaan bahwa esok hari ulang tahun istrinya. Yah, kusiapkan saja, pelanggan bagiku adalah segalanya. Sudah hampir 35 tahun aku membuka toko bunga ini. Hanya toko kecil di sebelah jalan besar. Sebenarnya aku hanya meneruskan usaha ayahku dulu. Walau sudah selama itu, usahaku  hanya biasa-biasa saja. Aku hanya memiliki 4 pegawai. Tiga perangkai bunga dan 1 sopir mobil yang biasa mengantarkan kalau ada pesanan ra...

Karena Terakhir...

“Sudah gila ya kamu Jo, itu beasiswa Harvard adalah beasiswa yang  paling dicari  anak-anak. Apalagi kamu dapat pembiayaan kuliah dan akomodasi, Kenapa sih ditolak?” Tanya Budi kepada kawannya Johan. Dia sangat kesal sekali melihat kawannya ini menyia-nyiakan beasiswa bergengsi. Beasiswa yang sangat diidam-idamkan oleh  mahasiswa seluruh  kampus. “Ah, aku tidak tertarik Bud, aku juga kemarin tidak niat-niat banget  mengirimkan aplikasi,”Jawab Johan “Dasar aneh anak ini, aku ga mengerti jalan pikiranmu. Bulan lalu kamu menolak pertukaran mahasiswa ke Cambridge, orang-orang pada nangis melihat perilakumu, Jo,” sanggah Budi “Ah masa sebegitunya?” Ucap Johan singkat “ Orang setengah mati pengen kuliah ke luar negeri, kamu seolah-olah ga butuh,” kata Budi kesal. “ Nanti kalau cocok aku berangkat juga Bud, santai saja,” jawab Johan. Johan memang dikenal anak yang cerdas,  indeks prestasinya tak pernah turun dari angka 4. Tak hanya itu, dia sangat akti...

Tuhan dan Tukang Pijat

Keinginan Tejo untuk memanggil tukang pijat langgananya sudah tak terbendung lagi. Badannya lelah, pikirannya ruwet, hatinya sumpek. Kehidupannya sebagai aktivis sosial memang terkadang membawanya ke kondisi-kondisi yang tak terduga. Sering dia harus menghadapi konflik-konflik yang menguras pikiran dan tenaganya. Baru-baru ini dia memimpin tim untuk melakukan advokasi kasus penyerobotan tanah masyarakat oleh perusahaan. Ketegangan sedang puncak-puncaknya. Pikirannya sedang sangat-sangat lelah. Tejo butuh melepaskan semuanya. Karena dia juga tak punya pacar apalagi istri. Tak ada yang bisa diajaknya bercanda dan bicara. Hanya pijat  urut yang bisa menjadi kesenangannya di dunia ini.  Sesampainya di ruang kontrakannya, dia duduk sebentar. Tak lama dia mengambil telepon genggamnya. "Kang Joko, apa bisa datang ke kontrakan, mau urut, capek semua badanku,"ucapnya kepada orang yang berada di seberang telepon. "Wah Mas Tejo, aku ada janji ngurut juga dengan orang lain, tapi ada...

Sawah

"Sudah jual saja, sawah itu Mbah?" bujuk Sukono kepada Mbah Karto. "Aku tidak bisa Le, itu sawah amanah dari leluhur kita," jawab kakek renta itu. " Siapa yang mau meneruskan menggarap sawah, Mbah. Bapak saja jadi guru. Lek Pardi jadi pegawai kelurahan. Cucu-cucu Simbah juga ga pengen jadi tani. Pengennya kerja di PT atau  kerja jadi pamong praja. Wong sudah pada sekolah tinggi-tinggi," ujar Sukono. " Ya biar aku saja yang menggarap sampai aku mati Le," jawab Mbah Karto " Rugi lo Mbah. Ini pupung pengembang memberikan harga yang tinggi, 3 kali lipat lo Mbah," Sukono meyakinkan. " Le, sekali ga ya ga, karena ini amanah yang disampaikan oleh leluhur-leluhurmu. Tani itu takdir simbah. Kalau simbah melanggar takut kualat," Mbah Karto berbicara sambil meninggalkan perdebatan itu. Desa Kertodipuro, memang sedang mengalami dilema besar. Desa yang dulunya menjadi gudang padi satu Kabupaten, kini lagi menjadi bidikan para pengemb...

Jangan Panggil Aku

Berkelana ke mancanegara adalah hobiku. Melintasi benua, menyusuri pantai, menerjang gurun pasir pernah kujalani. Orang bilang, aku terlahir untuk berkelana melintasi dunia.  Sepuluh  tahun lalu aku berkunjung ke Afganistan. Tempat yang indah, banyak kulihat bukit bukit yang terjal. Terkadang merasa dingin karena salju, terkadang panas menyentuh karena musim panas yang terlalu. Tempat ini menyanding sejarah panjang tentang pertempuran. Dulu saat perang dingin berlangsung, orang-orang di sini baku hantam dengan Negara Adikuasa dari Timur. Kini Negara Adi Kuasa dari Barat pun ingin bermain dan mencobanya. Afghanistan selalu mengingatkanku tentang film jagoan ahli pertempuran yang mampu mengalahkan puluhan orang dengan sekali tembakan. Entah Bagaimana orang di sini bisa hidup, di tengah-tengah pertempuran antar suku yang tak kunjung terselesaikan. Campur tangan bangsa lain yang penuh kepentingan, lebih memperparah keadaan. Setelah ke Afganistan, aku sempat berkunjung ke Irak. Ne...

Rumah Hijau Ujung Jalan

Sudah seminggu ini, Mbok Darmi berkeliling kampung mencari anak-anak yang biasa membeli mainan dagangannya. Sejak suaminya masih hidup, Mbok Darmi memang sudah berjualan mainan. Pembelinya laris manis. Tapi seminggu ini semuanya berubah begitu saja. Hanya sedikit saja yang terjual. Dia langkahkan kakinya ke lapangan di ujung kampung. Nihil. Tak ada anak-anak yang biasa bermain di sana. Tak menyerah. Dia berjalan ke tepi sawah, dimana biasanya bocah rame mencari capung dan belalang. Senyap. Hanya terlihat padi-padi menguning yang siap di panen. Dia istirahat sejenak di bawah pohon rambutan, sambil mengipas ngipaskan selendangnya. Dia memang berjualan dengan menggendong tenggok dengan selendangnya. "Kemana, Anak-Anak ?" pikirnya dalam hati. Tidak Mungkin bisa hilang begitu saja. Lenyap ditelan bumi. Hampir setiap hari dia alami hal serupa. Sambil duduk, dia memandangi mainan dagangannya. Mainan yang dia jual bukan mainan modern. Dia menawarkan mainan dari bambu dan kertas. Mai...

Ramalan Dukun Gila

Gila! Dukun itu benar-benar mengirimku ke tempat ini. Sebuah tempat yang menurutku aneh. Dukun itu bilang akan mengirimku ke 6000 tahun yang akan datang. Ke masa depan. Dan dia benar-benar melakukannya. Itu karena aku tak percaya omongannya. Dia bilang, tempatku tinggalku saat ini akan kembali ke jaman batu. Omongannya itu sangat tak masuk akal. Aku selalu berpikir, semakin ke masa depan dunia ini, akan semakin maju. Tak mungkin akan kembali lagi ke jaman purba, apa lagi jaman batu. "Tidak mungkin, omonganmu itu tak masuk akal," tukasku kepada dukun itu. Ucapanku itu, justru membuat dukun itu ingin membuktikanya kepadaku. "Kalau tidak percaya, aku akan mengirimkan sukmamu selama 3 hari di sana,"ucapnya. Dan benar saja, dia mengirimkan ke tempat ini. Saat menyadarinya pertama kali, aku langsung menyesal. Dukun itu memang benar. Tempat ini dipenuhi dengan batu. Tanahnya dari batu hitam keras dan panas. Jalannya juga terbuat dari batu. Rumah-rumah dengan bentuk yang be...