Langsung ke konten utama

Tuhan dan Tukang Pijat

Keinginan Tejo untuk memanggil tukang pijat langgananya sudah tak terbendung lagi. Badannya lelah, pikirannya ruwet, hatinya sumpek. Kehidupannya sebagai aktivis sosial memang terkadang membawanya ke kondisi-kondisi yang tak terduga. Sering dia harus menghadapi konflik-konflik yang menguras pikiran dan tenaganya. Baru-baru ini dia memimpin tim untuk melakukan advokasi kasus penyerobotan tanah masyarakat oleh perusahaan. Ketegangan sedang puncak-puncaknya. Pikirannya sedang sangat-sangat lelah. Tejo butuh melepaskan semuanya. Karena dia juga tak punya pacar apalagi istri. Tak ada yang bisa diajaknya bercanda dan bicara. Hanya pijat  urut yang bisa menjadi kesenangannya di dunia ini.

 Sesampainya di ruang kontrakannya, dia duduk sebentar. Tak lama dia mengambil telepon genggamnya.

"Kang Joko, apa bisa datang ke kontrakan, mau urut, capek semua badanku,"ucapnya kepada orang yang berada di seberang telepon.
"Wah Mas Tejo, aku ada janji ngurut juga dengan orang lain, tapi ada temanku yang bisa bantu, tukang pijat tuna netra yang handal," jawab lelaki yang diteleponnya.
"Ya sudah gå papa kang, yang Penting badanku bisa seger lagi," Jawab Tejo
"Nanti kemungkinan setengah jam lagi aku antarkan dia ke sana," janji tukang pijat langganannya itu.
" Oke Kang, Terimakasih banyak,"jawab Tejo sambil menutup telepon genggamnya.

Sedikit kecewa, karena tukang urutnya tidak bisa memijatnya. Tapi ya sudahlah, dalam pikirnya. Daripada tidak sama sekali. Dia pun segera mandi, supaya nanti ketika dipijat sudah agak segar. Setelah mandi Dia pun menyeduh  teh manis dan menyeruputnya sedikit demi sedikit. Penatnya mulai menyurut. Tak lama terdengar suara ketokan  dari pintu depan. Dibukakan pintu itu olehnya.

"O, Kang Joko," ucapnya
" Iya Mas, ini saya antarkan Pak Roji, tukang pijat yang saya ceritakan tadi,"ucap lelaki berperawakan kecil itu.
Tejo melihat di belakang Kang Joko, ada seorang lelaki paruh baya berkacamata hitam. Di tangan kanannya tergenggam tongkat, sementara di pundak kirinya tersampir tas kecil. Lelaki itu tampak tersenyum dan tiba-tiba berbicara
"Assalamualaikum, Mas. Saya Roji, salam kenal,"ucap lelaki itu.
"Walaikumsalam, silahkan pak, silahkan masuk,"Tejo mempersilahkan.
"Mas Tejo saya tinggal dulu ya, nanti Pak Roji saya jemput lagi kalau sudah. nanti kirim pesan saja, Terimakasih sebelumnya,"ucap Kang Joko
"Oh ya Kang,terimakasih,"jawab Tejo.

Tak lama Kang Joko pun meninggalkan rumah Tejo. Sementara Pak Roji masuk dan mempersiapkan pirantinya untuk memijat.

Setelah Tejo membaringkan diri di atas tikar plastik, Pak Roji pun mulai berbasa-basi dan memijatnya.  Benar-benar Pak Roji pemijat yang mumpuni. Tejo langsung cocok ketika tukang urut ini memijatnya beberapa saat.
"Lagi capek sekali ya Mas, kok kayaknya pundaknya keras sekali ?" Tanya Pak Roji.
"Iya Pak, lagi capek dan banyak pikiran,"Jawab Tejo
"Yang Penting itu sumeleh dan pasrah sama Tuhan mas," ucap Pak Roji
"Iya Pak, tapi sebenarnya saya tidak percaya adanya Tuhan Pak,"  Tejo kembali menyaut.
Mendengar Jawaban Tejo, sebenarnya Pak Roji agak kaget. Tapi dia mencoba tetap tenang. Tejo memang sering menyebut dirinya Atheis. Tidak percaya adanya Tuhan. Bacaannya, diskusi dan pergaulannya lah yang membuat dia seperti itu. Semua di dunia ini dinilainya dengan logika. Semuanya harus bisa dibuktikannya dengan empiris. Bahkan dia juga tidak percaya adanya hantu. Semuanya nonsense baginya. Tuhan menurutnya hanyalah entitas  yang diciptakan oleh pikiran manusia, karena ketidakberdayaannya menghadapi keadaan yang sulit. Sehingga manusia butuh tempat berlari. Sesuatu yang tak tampak baginya adalah tidak nyata. Begitu pemahaman Tejo.

"Loh, kenapa mas kok tidak percaya Tuhan? "Tanya tukang pijat itu.
" Bagi saya tidak masuk akal, bagi saya Tuhan hanyalah Benda yang diciptakan sendiri oleh manusia Pak, karena manusia gagal mengatasi masalah-masalahnya. Ketidakberdayaan manusia itulah yang membuat Tuhan muncul," jawab Tejo
"Oh begitu,"tanggap Pak Roji
" Yang jelas Tuhan itu tak terlihat pak, jadi susah untuk membuktikannya," lanjut Tejo.
"Oh ya. Tapi kalau saya jadi Mas, pasti saya menjadi orang paling susah di dunia," jawab Pak Roji.
"Loh kenapa Pak?" Tanya Tejo penasaran.
"Ya karena saya tidak bisa melihat sejak lahir mas. Kalau saya jadi mas, bahkan saya tidak akan percaya bahwa  Mas ini seorang laki-laki,"jawab Pak Roji.
"Loh saya ini laki-laki tulen lo Pak,"sanggah Tejo
"Loh ya iya, saya kan mengandaikan kalau saya berpikiran seperti Mas Tejo. Saya gå percaya Mas Tejo lelaki tulen karena saya tidak pernah melihat Mas Tejo," ucap Pak Roji.
"Saya juga gå percaya Mas Tejo ini punya otak dan pikiran, mohon maaf lo mas,"lanjut tukang pijat itu.
"Lah kenapa pak,"Tanya Tejo lagi
"Lå karena saya tidak pernah melihat otak Mas Tejo, saya tidak pernah bisa melihat pikiran Mas Tejo, bahkan tadi Mas Tejo bilang tubuhnya capek, saya juga tidak percaya. Karena saya tidak bisa melihat capek itu,"ucap Pak Roji

Mendengar jawaban itu Tejo terdiam merenungi ucapan Pak Roji. Dia merasa ada ide besar dari tukang pijat itu yang mengganggu jalan pikirannya selama ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Omelan-Omelan Ibu

  "Burhan, bangun, sudah jam 6 pagi, kau ini solat subuh selalu telat. Mau jadi apa kau nanti," suara ibu menyeruak menembus setengah kesadaranku.  " Sudah kubangunkan sejak  jam setengah lima, matamu terpejam saja bagai terkena lem," sentaknya tak henti-henti. Segera kuambil kaca mataku, kulirik layar telepon dan  memang sudah jam 6 lebih. Sinar matahari telah menerobos di sela-sela gorden lusuh kamarku.  Kuayunkan kaki gontai menembus ruang tengah yang sudah ramai oleh sibuknya anggota keluarga. Menuju kamar mandi, kuambil air penyuci. Solat bagiku masih kurasakan layaknya beban ransel gunung yang tergantung di punggung. Berat, terkadang harus kuseret, tetapi harus kubawa. Di usiaku yang sudah menginjak 20-an, aku sering malas mengerjakanya. Subuh kulakukan  hampir saat matahari telah bersinar terlalu tajam. Itu pun karena ibuku selalu teriak-teriak. Dzuhur, kukerjakan mepet dengan Ashar, biar aku hanya wudlu sekali jalan. Maghrib kadang terlewat. Isya og...

Muhammad A Kiong

Jika ditanya soal tempat yang paling nyaman selain kamarku, jawabnya adalah masjid kampus UGM. Walaupun aku sendiri bukan mahasiswa universitas itu. Terkadang bisa berjam-jam aku duduk di sana, membaca buku atau diskusi bersama kawan. Hawanya begitu menyejukkan. Tempatnya pun bersih dan indah. Hingga suatu hari aku bertemu dengan laki-laki aneh. Seseorang yang sangat mengagumkan sekaligus membingunganku. Saat itu, aku baru saja solat isya di sana. Usai berdoa, seperti biasa aku duduk di teras masjid. Menatap ke dalam lapangan luas berpohon palem. Untuk sekadar menghirup udara segar. Malam itu cukup cerah, bulan tak malu menampakkan diri. Padahal sore tadi, Jogja sempat diguyur hujan deras. “Assalamualaikum,” sapa laki-laki itu “Walaikum salam,” jawabku singkat. “Lagi menunggu siapa, mas?” “Wah, hanya cari udara segar di sini,” “Iya di sini memang menyejukkan, mas. Sudah lama saya jadi jamaah sini,” jawabnya. Kuperhatikan lebih dekat laki-laki itu. Ah...matanya sipit, seperti oran...

The 7 Habits of Highly Effective People (Stephen R Covey)

Membaca buku ini kita akan dibawa pada 7 Kebiasaan yang dapat meningkatkan produktivitas kita : Menjadi Proaktif, Bukan Reaktif.  Kebiasaan ini mendorong kita untuk selalu bertindak proporsional saat dihadapkan dengan berbagai tantangan. Saat menghadapi tantangan kita diminta untuk berfokus pada kondisi aktual dan difokuskan untuk mencari solusi, bukan menyalahkan keadaan. Alih-alih berkata ini salah si ini atau si itu, kita didorong untuk mencari potensi perbaikan dan jalan keluar yang bisa dijalankan. Begin With End in Mind (Memulai dengan tujuan akhir yang akan dituju ). Dalam memulai pekerjaan atau aktivitas, kita perlu memiliki visi jangka panjang. Kita harus memikirkan outcome apa yang hendak dituju, sehingga kita bisa memperinci langkah-langkah yang bisa dikerjakan. Dahulukan Yang Utama. Kebiasaan ini mendorong kita untuk memprioritaskan tujuan-tujuan utama daripada bereaksi terhadap urgensi.  Stephen R Covey menekankan pada pengaturan manajemen  diri dan pengatur...