Langsung ke konten utama

Jangan Panggil Aku

Berkelana ke mancanegara adalah hobiku. Melintasi benua, menyusuri pantai, menerjang gurun pasir pernah kujalani. Orang bilang, aku terlahir untuk berkelana melintasi dunia.  Sepuluh  tahun lalu aku berkunjung ke Afganistan. Tempat yang indah, banyak kulihat bukit bukit yang terjal. Terkadang merasa dingin karena salju, terkadang panas menyentuh karena musim panas yang terlalu. Tempat ini menyanding sejarah panjang tentang pertempuran. Dulu saat perang dingin berlangsung, orang-orang di sini baku hantam dengan Negara Adikuasa dari Timur. Kini Negara Adi Kuasa dari Barat pun ingin bermain dan mencobanya. Afghanistan selalu mengingatkanku tentang film jagoan ahli pertempuran yang mampu mengalahkan puluhan orang dengan sekali tembakan. Entah Bagaimana orang di sini bisa hidup, di tengah-tengah pertempuran antar suku yang tak kunjung terselesaikan. Campur tangan bangsa lain yang penuh kepentingan, lebih memperparah keadaan.

Setelah ke Afganistan, aku sempat berkunjung ke Irak. Negara Timur Tengah yang kaya dengan minyak. Tapi kini mulai terkoyak-koyak. Pasca dijatuhkannya rezim yang telah berkuasa, negeri Aladdin ini justru tak pernah menemukan kestabilannya.  Menurutku karena terlalu banyak kepentingan atas ladang-ladang minyak di atasnya. Ah, padahal negeri ini sebenarnya banyak menyimpan sejarah peradaban. Seperti mengulang saja, bekas-bekas peradaban itu hancur karena peperangan. Di abad 12, negeri ini diserang pasukan dari Timur, porak poranda.  Endapan-endapan ilmu yang tersimpan di perpustakaan kala itu, ikut dihancurkan. Di abad 20, giliran pasukan dari barat ikut memporakporandakan sisa sisa peradaban. Semuanya datang dengan kepentingan. Padang pasir di sini selalu mengingatkanku tentang sejarah panjang pertempuran di atas tanah para utusan Tuhan.

Beberapa tahun di Irak, aku melanjutkan perjalanan  Negeri Syam. Negeri yang sering disebut dalam kitab-kitab Kenabian. Negeri yang sempat menjadi pusat perdagangan. Negeri yang selalu diperebutkan. Negeri yang selalu menjadi latar cerita para utusan Tuhan. Pun tak berubah. Dahulu mereka berperang menggunakan perisai  dan pedang tajam. Kini orang-orang bertempur dengan saling mengirimkan ledakan. Ada yang bertempur atas nama kepentingan. Ada yang bertempur atas nama kekuasaan. Ada yang yang bertempur atas nama keyakinan. Bahkan semua menganggap dirinya adalah wakil dari Tuhan.  Mungkin segala sesuatu sudah digariskan. Dan ini Mungkin yang menjadi alasan kenapa utusan banyak diturunkan di negeri ini. Kutahu Negeri Syam masih bergejolak mencari  kestabilannya.  Aku hanya bisa memandang dari sudut pandangku saja.

Dari Negeri Syam, aku sempat berlabuh dengan di Negeri Benua Hitam. Kongo.  Negeri  ini adalah bekas koloni Negara Barat. Aku sangat takut saat menuju ke sana. Pernah kubaca di  kalawarta, negeri ini punya riwayat yang kurang baik tentang penerbangan. Tapi sebenarnya bukan itu, perang saudara dan pemberontakan mewaranai cerita tentang negeri ini.  Gerilyawan dan milisi menjadi topik sehari-hari. Duka pembantaian karena beda pemahaman sering terliput oleh para wartawan. Entahlah, aku hanya sebentar saja di negeri ini.

Bosan? Tidak. Aku tidak pernah bosan. Kenapa negeri-negeri yang aku kunjungi selalu mengalami pertikaian. Banyak kulihat anak-anak yang masih ingusan menyandang  senjata tanpa ketakutan.  Berlari  bersembunyi bergerilya.  Mereka seolah terlahir untuk bertempur sampai akhir. Kadang aku kagum. Kadang aku tertegun. Kadang aku merenungi takdirku yang harus menyaksikan setiap kejadian. Menanyakan kenapa aku harus diciptakan.  Karena tugasku sebenarnya tak hanya jalan-jalan. Tapi juga harus  ikut dalam setiap pertempuran. Perkenalkan, namaku adalah Senapan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Getting Things Done : Seni Menyelesaikan Pekerjaan (David Allen) Part 1

TERBEBAS DARI STRESS DENGAN MENULISKAN TUGAS Tugas- tugas yang menumpuk, ide-ide yang belum terealisasi, pesan-pesan dari atasan, email yang berjubel, terkadang membuat pikiran kita terasa berat. Perasaan stress karena memikirkan, bagaimana menyelesaikannya satu persatu sering muncul. Lalu bagaimana langkah awal mengatasi ini? Salah satu cara mengatasi penuhnya pikiran kita adalah dengan menuliskan semua tugas tersebut. Dengan mengalihkan tugas tersebut ke catatan, berarti memberikan kesempatan otak untuk berhenti memikirkannya. Menulis juga dapat menurunkan kecemasan. Karena dengan ditulis kita akan memberikan kesempatan untuk diri kita melihat permasalahan secara menyeluruh dan obyektif. Dalam menuliskan semua tugas, kita bisa dibantu dengan organizer  atau aplikasi yang membantu. KATEGORISASIKAN TUGAS YANG DICATAT Setelah kita menuangkan semua ide, janji, tugas ke dalam catatan, kita perlu mengategorisasikannya. Kategorisasi  tugas dapat dilakukan berdasarkan  jenisnya...

Kesenjangan Jakarta dari Sudut Berbeda

Saat melintas di Jalan Jenderal Sudirman Jakarta,    kita akan terkagum-kagum melihat megahnya gedung-gedung    tinggi.    Betapa majunya    kota metropolitan ini, dihiasi kerlap-kerlip warna-warni.    Sejenak kemudian, kita memasuki salah satu    gedung. Lalu naik ke lantai tertinggi dan memandang Jakarta dari kaca jendela. Oh betapa terkagetnya kita, diantara    sela-sela gedung itu, ada rumah-rumah kecil, warung-warung    sederhana, parkiran  bahkan tumpukan sampah terselip.    Tampak kontras dengan gedung-gedung kelas atas. Sebuah kesenjangan? Bisa jadi. Atau ada    sudut pandang lain untuk membingkainya. Rumah rumah   kecil   yang terselip diantara    pencakar langit, sejatinya adalah entitas pendukung kehidupan kota.    Office Boy  ,  cleaning service ,  security    bahkan    karyawan yang bekerja di    ...

Prinsip 80-20 (Richard Koch)

Prinsip ini pertama kali ditemukan oleh Vilfredo Pareto di Italia. Dia menemukan bahwa di akhir 19, bahwa 80% tanah di Italia dimiliki oleh 20 % penduduk. Pola ini ternyata konsisten di berbagai bidang.  Saat ini prinsip ini dikenal dengan Hukun. Pareto. Dalam bisnis berjualan misalnya, 80 % bisa jadi berasal dari 20% pelanggan atau 20% produk tertentu. Berdasarkan prinsip tersebut, kita perlu mengidentifikasi hal-hal apa saja yang sangat berpengaruh pada produktivitas hidup kita. Oleh karena itu, dalam bukunya ini, Richard Koch menyampaikan beberapa cara bagaimana bisa kita menerapkan prinsip ini dalam kehidupan sehari-hari : Amati & catat semua aktivitas, proyek atau segala sesuatu yang memberi hasil terbesar. Hilangkan atau kurangi hal-hal yang menghabiskan waktu tanpa memberi manfaat yang signifikan. Alihkan waktu, energi dan sumber daya ke hal-hal yang membuat lebih produktif. Dalam penerapannya prinsip ini sering menemukan beberapa kesalahan : Menganggap bahwa prinsip 80-...