Setelah ke Afganistan, aku sempat berkunjung ke Irak. Negara Timur Tengah yang kaya dengan minyak. Tapi kini mulai terkoyak-koyak. Pasca dijatuhkannya rezim yang telah berkuasa, negeri Aladdin ini justru tak pernah menemukan kestabilannya. Menurutku karena terlalu banyak kepentingan atas ladang-ladang minyak di atasnya. Ah, padahal negeri ini sebenarnya banyak menyimpan sejarah peradaban. Seperti mengulang saja, bekas-bekas peradaban itu hancur karena peperangan. Di abad 12, negeri ini diserang pasukan dari Timur, porak poranda. Endapan-endapan ilmu yang tersimpan di perpustakaan kala itu, ikut dihancurkan. Di abad 20, giliran pasukan dari barat ikut memporakporandakan sisa sisa peradaban. Semuanya datang dengan kepentingan. Padang pasir di sini selalu mengingatkanku tentang sejarah panjang pertempuran di atas tanah para utusan Tuhan.
Beberapa tahun di Irak, aku melanjutkan perjalanan Negeri Syam. Negeri yang sering disebut dalam kitab-kitab Kenabian. Negeri yang sempat menjadi pusat perdagangan. Negeri yang selalu diperebutkan. Negeri yang selalu menjadi latar cerita para utusan Tuhan. Pun tak berubah. Dahulu mereka berperang menggunakan perisai dan pedang tajam. Kini orang-orang bertempur dengan saling mengirimkan ledakan. Ada yang bertempur atas nama kepentingan. Ada yang bertempur atas nama kekuasaan. Ada yang yang bertempur atas nama keyakinan. Bahkan semua menganggap dirinya adalah wakil dari Tuhan. Mungkin segala sesuatu sudah digariskan. Dan ini Mungkin yang menjadi alasan kenapa utusan banyak diturunkan di negeri ini. Kutahu Negeri Syam masih bergejolak mencari kestabilannya. Aku hanya bisa memandang dari sudut pandangku saja.
Dari Negeri Syam, aku sempat berlabuh dengan di Negeri Benua Hitam. Kongo. Negeri ini adalah bekas koloni Negara Barat. Aku sangat takut saat menuju ke sana. Pernah kubaca di kalawarta, negeri ini punya riwayat yang kurang baik tentang penerbangan. Tapi sebenarnya bukan itu, perang saudara dan pemberontakan mewaranai cerita tentang negeri ini. Gerilyawan dan milisi menjadi topik sehari-hari. Duka pembantaian karena beda pemahaman sering terliput oleh para wartawan. Entahlah, aku hanya sebentar saja di negeri ini.
Bosan? Tidak. Aku tidak pernah bosan. Kenapa negeri-negeri yang aku kunjungi selalu mengalami pertikaian. Banyak kulihat anak-anak yang masih ingusan menyandang senjata tanpa ketakutan. Berlari bersembunyi bergerilya. Mereka seolah terlahir untuk bertempur sampai akhir. Kadang aku kagum. Kadang aku tertegun. Kadang aku merenungi takdirku yang harus menyaksikan setiap kejadian. Menanyakan kenapa aku harus diciptakan. Karena tugasku sebenarnya tak hanya jalan-jalan. Tapi juga harus ikut dalam setiap pertempuran. Perkenalkan, namaku adalah Senapan.

Komentar
Posting Komentar