Sambil duduk, dia memandangi mainan dagangannya. Mainan yang dia jual bukan mainan modern. Dia menawarkan mainan dari bambu dan kertas. Mainannya dia warnai dengan teres atau pewarna yang biasa digunakan untuk mewarnai layang-layang. Setiap malam hari dia rangkai bambu-bambu itu menjadi mainan. Tak banyak. Karena dia juga sudah renta. Matanya juga mulai rabun. Hasilnya juga tak sebanyak sewaktu muda dulu. Cukup untuk makan sehari-hari. Beli beras dan lauk seadanya. Paling sering ikan asin dan tempe tahu. Lamunan Mbok Darmi terganggu oleh suara burung yang tiba-tiba hinggap di atas pohon. Suaranya begitu indah, tak seindah pikirannya waktu itu. Dia memutuskan untuk menuju ke tengah kampung. Mungkin anak-anak sedang bermain di sana. Dilangkahkan kakinya dengan gontai namun penuh harap. Bertemu anak-anak adalah mimpi terbesarnya. Bukan hanya karena dagangannya akan terbeli, tapi dia sendiri memang menyukainya. Bertemu anak-anak, akan sedikit menghilangkan kenangan bersama dengan suami tercinta.
"Mau Kemana Mbok?" tiba tiba Yu Surat memanggilnya.
" Ke tengah kampung, Yu. Aku heran kok seminggu ini, aku susah sekali menemui anak-anak. Daganganku jadi sepi," jawab Mbok Darmi.
"Oh, anak-anak ya Mbok, aku boleh cerita ngga, " tanggap Yu Surat.
"Boleh saja Yu, bagaimana?" Jawab Mbok Darmi.
"Begini Mbok, semenjak rumah hijau yang ada di ujung jalan sana itu dihuni oleh orang kota, anak-anak sering main ke sana mbok," jelas Yu Surat.
" Oh rumah yang temboknya tinggi itu ya Yu?" Tanya Mbok Darmi.
" Betul Mbok, dan kata anak saya, di sana itu aneh Mbok. Di sana anak-anak bisa bermain sepak bola tanpa berkeringat. Tembak-tembakan tanpa bawa bedhil. Anak-anak bebas main apa saja. Main pedang-pedangan tanpa bawa pedang,"lanjut Yu Surat.
" Wah apa Betul itu Yu?" Tanya Mbok Darmi penasaran.
"Entahlah Mbok, tapi kalau penasaran, Mbok bisa ke sana sendiri," Jawab Yu Surat.
Mbok Darmi, yang penasaran akhirnya membelokkan langkahnya ke rumah hijau di ujung jalan itu. Perlahan dia langkahkan kakinya satu demi satu. Hingga Akhirnya dia sampai di depan rumah berpagar tinggi itu. Dia lihat beberapa sepeda terparkir di depannya. Terdengar suara riuh anak-anak bersandau gurau. Ramai sekali. Nampaknya mereka bahagia di dalam sana. Sesekali terdengar teriakan. Mbok Darmi hanya termenung di depan rumah itu. Membayangkan apa yang sebenarnya ada di dalamnya. Ingin masuk, tapi tak ada keberanian. Dia sebenarnya penasaran dengan apa yang diucapkan oleh Yu Surat. Namun ketidakberaniannya, mendorongnya untuk meninggalkan rumah itu. Kakinya menuju kampung sebelah, berharap ada asa untuk hari ini baginya.

Komentar
Posting Komentar