Langsung ke konten utama

Rumah Hijau Ujung Jalan

Sudah seminggu ini, Mbok Darmi berkeliling kampung mencari anak-anak yang biasa membeli mainan dagangannya. Sejak suaminya masih hidup, Mbok Darmi memang sudah berjualan mainan. Pembelinya laris manis. Tapi seminggu ini semuanya berubah begitu saja. Hanya sedikit saja yang terjual. Dia langkahkan kakinya ke lapangan di ujung kampung. Nihil. Tak ada anak-anak yang biasa bermain di sana. Tak menyerah. Dia berjalan ke tepi sawah, dimana biasanya bocah rame mencari capung dan belalang. Senyap. Hanya terlihat padi-padi menguning yang siap di panen. Dia istirahat sejenak di bawah pohon rambutan, sambil mengipas ngipaskan selendangnya. Dia memang berjualan dengan menggendong tenggok dengan selendangnya. "Kemana, Anak-Anak ?" pikirnya dalam hati. Tidak Mungkin bisa hilang begitu saja. Lenyap ditelan bumi. Hampir setiap hari dia alami hal serupa.

Sambil duduk, dia memandangi mainan dagangannya. Mainan yang dia jual bukan mainan modern. Dia menawarkan mainan dari bambu dan kertas. Mainannya dia warnai dengan teres atau pewarna yang biasa digunakan untuk mewarnai layang-layang. Setiap malam hari dia rangkai bambu-bambu itu menjadi mainan. Tak banyak. Karena  dia  juga sudah renta. Matanya juga mulai rabun. Hasilnya juga tak sebanyak sewaktu muda dulu. Cukup untuk makan sehari-hari. Beli beras dan lauk seadanya. Paling sering ikan asin dan tempe tahu. Lamunan Mbok Darmi terganggu oleh suara burung yang tiba-tiba hinggap di atas pohon. Suaranya begitu indah, tak seindah pikirannya waktu itu. Dia memutuskan untuk  menuju ke tengah kampung.  Mungkin anak-anak sedang bermain di sana.  Dilangkahkan kakinya dengan gontai namun penuh harap. Bertemu anak-anak adalah mimpi terbesarnya. Bukan hanya karena dagangannya akan terbeli, tapi dia sendiri memang menyukainya. Bertemu anak-anak, akan sedikit menghilangkan kenangan bersama dengan suami tercinta.

"Mau Kemana Mbok?" tiba tiba Yu Surat memanggilnya.
" Ke tengah kampung, Yu. Aku heran kok seminggu ini, aku susah sekali  menemui anak-anak. Daganganku jadi sepi," jawab Mbok Darmi.
"Oh, anak-anak ya Mbok, aku boleh cerita ngga, " tanggap Yu Surat.
"Boleh saja  Yu, bagaimana?" Jawab Mbok Darmi.
"Begini Mbok, semenjak  rumah hijau yang ada di ujung jalan sana  itu dihuni oleh orang kota, anak-anak sering main ke sana mbok," jelas  Yu Surat.
" Oh rumah yang temboknya tinggi itu ya Yu?" Tanya Mbok Darmi.
" Betul Mbok, dan kata anak saya, di sana itu aneh Mbok. Di sana anak-anak bisa bermain sepak bola tanpa berkeringat. Tembak-tembakan tanpa bawa bedhil. Anak-anak bebas main apa saja. Main pedang-pedangan tanpa bawa pedang,"lanjut Yu Surat.
" Wah apa Betul itu Yu?" Tanya Mbok Darmi penasaran.
"Entahlah Mbok, tapi kalau penasaran, Mbok bisa ke sana sendiri," Jawab Yu Surat.

Mbok Darmi, yang penasaran akhirnya membelokkan langkahnya ke rumah hijau di ujung jalan itu. Perlahan dia langkahkan kakinya satu demi satu. Hingga Akhirnya dia sampai di depan rumah berpagar tinggi itu. Dia lihat beberapa sepeda terparkir di depannya. Terdengar suara riuh anak-anak bersandau gurau. Ramai sekali. Nampaknya mereka bahagia di dalam sana. Sesekali terdengar teriakan. Mbok Darmi hanya termenung di depan rumah itu. Membayangkan apa yang sebenarnya ada di dalamnya. Ingin masuk, tapi tak ada keberanian. Dia  sebenarnya penasaran dengan apa yang diucapkan oleh Yu Surat. Namun ketidakberaniannya, mendorongnya untuk meninggalkan rumah itu. Kakinya menuju kampung sebelah, berharap ada asa untuk hari ini baginya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Omelan-Omelan Ibu

  "Burhan, bangun, sudah jam 6 pagi, kau ini solat subuh selalu telat. Mau jadi apa kau nanti," suara ibu menyeruak menembus setengah kesadaranku.  " Sudah kubangunkan sejak  jam setengah lima, matamu terpejam saja bagai terkena lem," sentaknya tak henti-henti. Segera kuambil kaca mataku, kulirik layar telepon dan  memang sudah jam 6 lebih. Sinar matahari telah menerobos di sela-sela gorden lusuh kamarku.  Kuayunkan kaki gontai menembus ruang tengah yang sudah ramai oleh sibuknya anggota keluarga. Menuju kamar mandi, kuambil air penyuci. Solat bagiku masih kurasakan layaknya beban ransel gunung yang tergantung di punggung. Berat, terkadang harus kuseret, tetapi harus kubawa. Di usiaku yang sudah menginjak 20-an, aku sering malas mengerjakanya. Subuh kulakukan  hampir saat matahari telah bersinar terlalu tajam. Itu pun karena ibuku selalu teriak-teriak. Dzuhur, kukerjakan mepet dengan Ashar, biar aku hanya wudlu sekali jalan. Maghrib kadang terlewat. Isya og...

Muhammad A Kiong

Jika ditanya soal tempat yang paling nyaman selain kamarku, jawabnya adalah masjid kampus UGM. Walaupun aku sendiri bukan mahasiswa universitas itu. Terkadang bisa berjam-jam aku duduk di sana, membaca buku atau diskusi bersama kawan. Hawanya begitu menyejukkan. Tempatnya pun bersih dan indah. Hingga suatu hari aku bertemu dengan laki-laki aneh. Seseorang yang sangat mengagumkan sekaligus membingunganku. Saat itu, aku baru saja solat isya di sana. Usai berdoa, seperti biasa aku duduk di teras masjid. Menatap ke dalam lapangan luas berpohon palem. Untuk sekadar menghirup udara segar. Malam itu cukup cerah, bulan tak malu menampakkan diri. Padahal sore tadi, Jogja sempat diguyur hujan deras. “Assalamualaikum,” sapa laki-laki itu “Walaikum salam,” jawabku singkat. “Lagi menunggu siapa, mas?” “Wah, hanya cari udara segar di sini,” “Iya di sini memang menyejukkan, mas. Sudah lama saya jadi jamaah sini,” jawabnya. Kuperhatikan lebih dekat laki-laki itu. Ah...matanya sipit, seperti oran...

The 7 Habits of Highly Effective People (Stephen R Covey)

Membaca buku ini kita akan dibawa pada 7 Kebiasaan yang dapat meningkatkan produktivitas kita : Menjadi Proaktif, Bukan Reaktif.  Kebiasaan ini mendorong kita untuk selalu bertindak proporsional saat dihadapkan dengan berbagai tantangan. Saat menghadapi tantangan kita diminta untuk berfokus pada kondisi aktual dan difokuskan untuk mencari solusi, bukan menyalahkan keadaan. Alih-alih berkata ini salah si ini atau si itu, kita didorong untuk mencari potensi perbaikan dan jalan keluar yang bisa dijalankan. Begin With End in Mind (Memulai dengan tujuan akhir yang akan dituju ). Dalam memulai pekerjaan atau aktivitas, kita perlu memiliki visi jangka panjang. Kita harus memikirkan outcome apa yang hendak dituju, sehingga kita bisa memperinci langkah-langkah yang bisa dikerjakan. Dahulukan Yang Utama. Kebiasaan ini mendorong kita untuk memprioritaskan tujuan-tujuan utama daripada bereaksi terhadap urgensi.  Stephen R Covey menekankan pada pengaturan manajemen  diri dan pengatur...